Unras Hari Tani di Tojo Una-Una: Enam Kader GmnI Jadi Korban Represifitas Aparat Kemanan, Ada yang di Seret di Leher

25 September 2024, 00:51 WIB

Aksi unjuk rasa (Unras) peringatan hari tani nasional yang dimotori oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tojo Una-Una bersama masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Front Marhaen Berjuang (FMB) berakhir dengan ricuh, Selasa (24/09/2024).

– Aksi unjuk rasa (Unras) peringatan yang dimotori oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)  bersama masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Front Marhaen Berjuang (FMB) berakhir dengan ricuh, Selasa (24/09/2024).

Kericuhan tersebut didasari atas kekecewaan masa aksi yang ingin berdialog bersama Bupati , Mohamad Lahay dan pejabat terkait di depan Kantor Bupati Tojo Una-Una namun tidak di indahkan.

Kekecewaan semakin memuncak, akbiatnya kericuhan antara massa aksi dengan aparat keamanan tidak terbendung lagi.  Parahnya, terdapat tindakan represif dari pihak aparat keamanan pada salah satu kader GmnI, Moh. Fatul Ulum Lahalik yang mengakibatkan memar di pelipis dan luka di kaki akibat kekerasan yang terjadi selama kericuhan tersebut.

Selain itu, lima kader GmnI lainnya juga menjadi korban kekerasan, dengan beberapa di antaranya mengalami pencekikan dan penyeretan oleh aparat.

Menanggapi hal itu, Ketua GMNI Touna menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan represif aparat dan meminta agar Kapolres Touna dicopot dari jabatannya karena dianggap lalai dalam menerapkan SOP pengamanan. Selain itu, ia juga meminta Bupati Tojo Una-Una memberikan sanksi tegas terhadap staf kantor bupati yang diduga melakukan kekerasan terhadap kader GMNI.

“Kami mengutuk keras tindakan represif aparat dan menuntut Kapolda Sulteng untuk segera memecat Kapolres Touna. Kami juga meminta Bupati mengeluarkan surat peringatan keras terhadap staf yang melakukan pemukulan terhadap kader kami,” tegas Ketua GMNI Touna.

Setelah insiden tersebut, massa aksi memutuskan untuk meninggalkan lokasi dengan rasa kecewa, merasa bahwa pemerintah daerah tidak mampu menampung dan merespons aspirasi mereka dengan baik.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang