HOROR! Ingin Keluarga Cemara ala Fadil Jaidi, Malah Alami KDRT Kakak Sendiri?

Image from inet.detik.com
Source: inet.detik.com

Faktor Pemicu Sibling Violence

  • Persaingan dan Kecemburuan: Perasaan iri hati terhadap perhatian, pencapaian, atau barang milik saudara.
  • Ketidakseimbangan Kekuatan: Kakak yang lebih tua seringkali memiliki keunggulan fisik atau dominasi yang bisa disalahgunakan.
  • Masalah Kesehatan Mental: Pelaku mungkin memiliki masalah kesehatan mental yang tidak terdiagnosis atau tidak tertangani, seperti gangguan perilaku atau depresi.
  • Lingkungan Keluarga yang Disfungsi: Orang tua yang sering bertengkar, absen, atau melakukan kekerasan dapat membentuk pola perilaku agresif pada anak-anak.
  • Kurangnya Batasan dan Komunikasi: Keluarga yang tidak menetapkan batasan jelas mengenai perilaku yang dapat diterima atau kurangnya komunikasi terbuka dapat membiarkan kekerasan terjadi.
  • Tekanan dan Stres: Tekanan akademik, masalah pertemanan, atau stres dalam keluarga dapat memicu ledakan emosi yang berujung pada kekerasan.

Melawan Kekerasan: Pentingnya Berani Bicara dan Mencari Pertolongan

Kisah viral ini adalah pengingat bahwa dalam bentuk apapun, termasuk antar saudara kandung, tidak boleh ditoleransi. Penting bagi korban untuk tidak merasa sendirian dan berani mencari pertolongan.

Mengungkapkan apa yang terjadi bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah keberanian luar biasa untuk keluar dari lingkaran kekerasan. Ingatlah, bahwa Anda berhak atas lingkungan yang aman dan bebas dari rasa takut.

Langkah untuk Korban KDRT Sibling

  • Berani Bicara: Sampaikan kepada orang dewasa terpercaya (guru, paman/bibi, konselor) atau teman dekat.
  • Cari Bantuan Profesional: Jangan ragu menghubungi psikolog atau konselor untuk mendapatkan dukungan emosional dan strategi penanganan trauma.
  • Laporkan Jika Perlu: Jika kekerasan sudah pada tahap mengancam keselamatan fisik, laporkan ke pihak berwajib atau lembaga perlindungan anak/perempuan seperti Komnas Perempuan atau P2TP2A.
  • Ciptakan Jarak Aman: Jika memungkinkan dan aman, hindari interaksi dengan pelaku atau ciptakan batasan yang jelas.

Kisah viral ini membuka mata kita bahwa idealisasi ‘‘ tidak selalu mencerminkan realita yang terjadi. Penting untuk mengakui dan mengatasi dalam segala bentuknya, bahkan ketika itu datang dari orang terdekat. Dengan demikian, kita bisa membangun lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi setiap individu.

Dapatkan Berita Terupdate dari penadata di: