Padahal, dampak dari KDRT antar saudara ini bisa sangat mendalam dan meninggalkan luka psikologis yang parah bagi korbannya. Betapa hancurnya hati seseorang ketika sosok yang seharusnya menjadi teman bermain atau sandaran, justru menjadi sumber trauma dan ketakutan.
Apa Itu KDRT dan Mengapa Kekerasan Antar Saudara Sering Terabaikan?
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) didefinisikan sebagai setiap perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Meski definisi ini jelas mencakup anggota keluarga mana pun, kekerasan yang dilakukan oleh saudara kandung seringkali disalahpahami. Orang tua mungkin menganggapnya sebagai ‘pertengkaran biasa’ atau ‘dinamika sibling’ yang akan berlalu seiring waktu.
Pemahaman yang keliru ini membuat korban sulit untuk mengungkapkan penderitaannya, karena merasa tidak akan ada yang serius menanggapinya. Akibatnya, trauma yang dialami bisa mengakar dan berdampak pada perkembangan mental serta hubungan sosial korban di masa depan.
Dampak Psikologis KDRT Sibling yang Merusak
- Trauma Emosional: Rasa takut, cemas, dan depresi yang berkepanjangan.
- Masalah Kepercayaan: Sulit membangun kepercayaan pada orang lain, bahkan keluarga sendiri.
- Gangguan Identitas Diri: Merasa tidak berharga atau bersalah atas kekerasan yang dialami.
- Gangguan Tidur dan Makan: Sering mimpi buruk atau perubahan pola makan.
- Perilaku Agresif atau Menarik Diri: Korban bisa menjadi agresif atau sebaliknya, sangat tertutup.
Penyebab KDRT Sibling: Bukan Hanya Sekadar Pertengkaran Biasa
Kekerasan antar saudara memiliki akar yang kompleks dan tidak bisa direduksi menjadi sekadar pertengkaran sepele. Beberapa faktor dapat berkontribusi pada munculnya perilaku kekerasan ini: