Sisi Lain Koin: Argumen Penolakan dari Para Peneliti
Meski menarik, teori danau raksasa ini tidak diterima secara universal. Banyak peneliti, terutama dari generasi yang lebih baru, meragukan kesimpulan tersebut. Mereka mengajukan bukti dan interpretasi yang berbeda.
Salah satu argumen utama penolakan adalah kurangnya bukti definitif berupa fosil organisme air tawar atau air laut yang melimpah di lapisan tanah sekitar Borobudur. Jika memang ada danau besar, seharusnya ada sisa-sisa kehidupan di dalamnya.
Peneliti Hari Untoro Drajat, misalnya, menyatakan keraguannya. "Tidak ada bukti biologis yang kuat mendukung klaim danau purba raksasa," ujarnya dalam beberapa kesempatan. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang interpretasi geologis awal.
Interpretasi Geologi Alternatif
Para penentang teori danau lebih cenderung melihat Dataran Kedu sebagai wilayah yang sangat dinamis secara geologis. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan Merbabu, serta aliran sungai Progo dan Elo, berperan besar membentuk lanskap.
Eko Teguh Paripurno, seorang ahli geologi, berpendapat bahwa cekungan yang ada mungkin merupakan hasil aktivitas tektonik dan vulkanik. Wilayah ini mungkin sering tergenang banjir lokal, atau membentuk rawa-rawa, tetapi bukan danau raksasa permanen.
Analisis sedimen yang lebih modern juga menunjukkan bahwa endapan di sekitar Borobudur lebih konsisten dengan lingkungan sungai atau dataran banjir, bukan danau yang dalam dan stabil dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Konteks Sosial dan Pembangunan Candi
Jika Borobudur berdiri di tengah danau, akan sangat sulit untuk membangun struktur sebesar itu. Logistik pengangkutan batu dan pembangunan fondasi di lingkungan berair akan menjadi tantangan yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh teknologi masa itu.
Penemuan sisa-sisa permukiman kuno dan artefak di dataran Kedu juga menunjukkan bahwa area tersebut merupakan dataran yang subur dan dihuni sejak lama. Ini tidak konsisten dengan gagasan sebuah danau besar yang menutupi sebagian besar wilayah.