Momen tersebut sangat krusial, bukan hanya karena menambahkan satu trofi lagi ke koleksi klub, tetapi juga karena itu adalah gelar pertama bagi Arteta sebagai pelatih kepala.
Itu adalah janji awal akan era baru, harapan akan masa depan cerah, dan penegasan bahwa ‘Raja Piala FA‘ masih memiliki taring.
Setelah 2020: Mengapa Gelar Berhenti Mengalir?
Setelah euforia di Wembley pada 2020, banyak yang berharap Arsenal akan segera menambah koleksi trofi mereka.
Namun, hingga saat ini, belum ada satu pun gelar mayor yang berhasil mereka raih. Ada beberapa faktor yang mungkin menjelaskan paceklik ini.
Fokus pada Liga Primer dan Liga Champions
Dalam beberapa musim terakhir, terlihat jelas bahwa Arsenal, di bawah Arteta, mulai mengalihkan fokus dan sumber daya mereka ke kompetisi yang lebih besar: Liga Primer Inggris dan Liga Champions.
Ambisi untuk kembali bersaing di puncak liga domestik dan Eropa mungkin membuat Piala FA, meski tetap penting, bukan lagi menjadi prioritas mutlak yang ‘harus’ dimenangkan.
Persaingan yang Semakin Ketat
Lanskap sepak bola Inggris saat ini jauh lebih kompetitif dibandingkan dekade sebelumnya. Klub-klub seperti Manchester City, Liverpool, Manchester United, dan bahkan Chelsea, berinvestasi besar-besaran.
Ini menciptakan lingkungan di mana memenangkan satu trofi pun, apalagi liga atau Eropa, menjadi tugas yang sangat berat.
Pembangunan Kembali Skuad
Sejak Arteta mengambil alih, Arsenal telah menjalani proses pembangunan kembali skuad yang ekstensif. Banyak pemain senior dilepas, digantikan oleh talenta muda dengan potensi besar.
Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan seringkali mengorbankan kesuksesan instan dalam bentuk trofi. Klub berinvestasi pada masa depan, dengan harapan panen gelar akan datang kemudian.
