Kekalahan Pahit di Babak Adu Penalti
Dalam adu penalti yang penuh drama, Kepa sebenarnya sempat melakukan penyelamatan gemilang dari tendangan Leroy Sané. Namun, ia juga gagal membendung eksekusi Sergio Agüero dan Raheem Sterling.
Pada akhirnya, Chelsea harus mengakui keunggulan Manchester City dengan skor 3-4 di babak adu penalti. Kekalahan ini menjadi lebih pahit mengingat kontroversi yang melingkupi performa Kepa dan insiden penolakan pergantian yang mendahului babak tos-tosan tersebut.
Kembali Terjebak di Final 2022 vs Liverpool: Spesialis Penalti yang Gagal
Tiga musim berselang, Kepa kembali berada di final Carabao Cup, kali ini bersama Chelsea yang dilatih Thomas Tuchel, menghadapi Liverpool di musim 2021/2022. Ia datang ke pertandingan ini dengan reputasi sebagai kiper yang memiliki persentase penyelamatan penalti yang cukup baik.
Strategi Pergantian Kiper yang Berujung Petaka
Pertandingan berakhir imbang 0-0 hingga babak tambahan usai, sehingga harus dilanjutkan ke adu penalti. Tuchel membuat keputusan berani dengan mengganti kiper utama Edouard Mendy, yang tampil cemerlang sepanjang laga, dengan Kepa Arrizabalaga di menit-menit akhir babak tambahan.
Langkah ini diambil karena catatan Kepa yang dianggap lebih unggul dalam adu penalti dibandingkan Mendy. Harapannya, Kepa bisa menjadi pahlawan dengan menepis tendangan lawan. Namun, kenyataan berkata lain.
Dalam adu penalti yang berlangsung sangat panjang dan menegangkan, semua penendang dari kedua tim berhasil melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Hingga tiba giliran Kepa sebagai penendang terakhir Chelsea. Sayangnya, tendangannya melambung tinggi di atas mistar gawang, mengunci kemenangan Liverpool dengan skor 11-10.
Momen itu menjadi pukulan telak bagi Kepa dan Chelsea. Ekspektasi besar untuk menjadi pahlawan justru berakhir dengan kegagalan fatal. Ini adalah kali kedua Kepa mengalami “mimpi buruk” di final Carabao Cup, dan kali ini, dia sendiri yang menjadi penyebab kekalahan.
Menganalisis Pola ‘Mimpi Buruk’ Kepa
Tekanan Mental dan Psikologis
Melihat dua insiden tersebut, sangat jelas bahwa tekanan mental dan psikologis memainkan peran besar dalam performa Kepa di final. Sebagai kiper termahal dunia, beban ekspektasi yang diembannya sangatlah besar. Setiap kesalahan akan disorot tajam dan dibahas secara mendalam.
