Kepa Arrizabalaga, nama yang kerap dikaitkan dengan momen dramatis, bahkan ironis, di panggung final. Khususnya, ajang Carabao Cup seolah memiliki “kutukan” tersendiri bagi kiper asal Spanyol ini. Setiap kehadirannya di partai puncak kompetisi ini selalu menyisakan kisah pahit atau kontroversi yang sulit dilupakan.
Dari insiden penolakan pergantian pemain yang menggemparkan dunia, hingga kegagalan krusial di babak adu penalti, jejak Kepa di final Carabao Cup selalu menjadi sorotan. Mari kita bedah lebih dalam mengapa trofi ini kerap menjadi mimpi buruk bagi sang penjaga gawang termahal dunia.
Sejarah Transfer yang Fantastis dan Ekspektasi Tinggi
Pada tahun 2018, Kepa Arrizabalaga tiba di Stamford Bridge dengan label kiper termahal di dunia, memecahkan rekor transfer Alisson Becker. Chelsea menggelontorkan dana fantastis sebesar 71 juta Poundsterling, atau sekitar Rp1,3 triliun saat itu, untuk memboyongnya dari Athletic Bilbao.
Ekspektasi terhadapnya sangat melambung. Ia diharapkan menjadi pilar utama di bawah mistar gawang The Blues untuk jangka panjang, menggantikan Thibaut Courtois yang hengkang ke Real Madrid. Namun, perjalanan Kepa tidak semulus yang dibayangkan, terutama di momen-momen krusial.
Drama Tak Terlupakan: Final Carabao Cup 2019 vs Manchester City
Final Carabao Cup musim 2018/2019 mempertemukan Chelsea asuhan Maurizio Sarri dengan Manchester City. Pertandingan berjalan ketat dan diwarnai insiden paling ikonik yang melibatkan Kepa Arrizabalaga.
Insiden Penolakan Pergantian Pemain
Menjelang akhir babak tambahan, Kepa mengalami cedera ringan. Pelatih Maurizio Sarri memutuskan untuk menggantinya dengan kiper cadangan, Willy Caballero, yang dikenal memiliki rekor bagus dalam adu penalti. Namun, Kepa secara mengejutkan menolak untuk keluar lapangan.
Momen tersebut terekam jelas di layar televisi dan menjadi perbincangan global. Sarri terlihat sangat marah di pinggir lapangan, melemparkan botol minuman, dan bahkan nyaris meninggalkan bench tim. Situasi ini menciptakan kegaduhan besar di tengah pertandingan final yang krusial.
Publik terpecah belah antara mengkritik indisipliner Kepa atau mempertanyakan otoritas Sarri. Insiden ini secara tidak langsung memengaruhi mental tim dan menciptakan ketidaknyamanan yang terasa hingga ke lapangan. Chelsea akhirnya harus menghadapi adu penalti dalam suasana yang tegang.
