Kriteria terbaru MABIMS menetapkan bahwa hilal dinyatakan dapat terlihat (imkanur rukyat) jika memenuhi dua syarat utama. Pertama, ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk. Kedua, elongasi (jarak sudut) bulan-matahari minimal 6,4 derajat.
Mengapa Ketinggian Hilal Minimal 3 Derajat?
Angka 3 derajat bukan angka sembarangan, melainkan hasil kajian dan pengalaman empiris bertahun-tahun. Ketinggian hilal yang terlalu rendah, misalnya di bawah 3 derajat, akan sangat sulit bahkan nyaris mustahil untuk diamati.
Ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pada ketinggian rendah, hilal masih terlalu dekat dengan cakrawala tempat pantulan cahaya matahari masih sangat kuat. Selain itu, gangguan atmosfer seperti pembiasan, penyerapan, dan hamburan cahaya oleh debu serta partikel di udara sangat signifikan.
Lapisan atmosfer yang tebal di dekat ufuk dapat menyebabkan cahaya hilal yang sangat redup menjadi semakin pudar atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Dengan ketinggian minimal 3 derajat, hilal diharapkan berada di zona yang relatif lebih bersih dari gangguan atmosfer.
Mengapa Elongasi Minimal 6,4 Derajat Sangat Penting?
Elongasi adalah jarak sudut antara pusat bulan dan pusat matahari, diukur dari sudut pandang pengamat di Bumi. Angka 6,4 derajat ini juga merupakan hasil dari penelitian astronomi dan observasi yang cermat.
Jika elongasi terlalu kecil, bulan masih terlalu dekat dengan matahari secara angular. Meskipun matahari sudah terbenam, cahaya senja masih sangat kuat dan akan menenggelamkan cahaya hilal yang redup. Ini membuatnya tidak mungkin untuk dilihat dengan mata telanjang, bahkan seringkali sulit dengan teleskop.
Dengan elongasi minimal 6,4 derajat, hilal memiliki jarak yang cukup jauh dari posisi matahari, memungkinkan cahayanya yang tipis untuk sedikit memisahkan diri dari siluet matahari yang masih memancarkan cahaya senja. Ini memberikan kesempatan yang lebih baik bagi pengamat untuk mendeteksi keberadaannya.