Tradisi "Bakda Kupat": Warisan Abadi
Tradisi yang dimulai sejak era Demak ini terus lestari hingga kini melalui "Bakda Kupat" atau Lebaran Ketupat, yang biasanya dirayakan seminggu setelah Idul Fitri. Ini menjadi momen puncak silaturahmi di banyak daerah.
Masyarakat berkumpul, saling mengunjungi, dan menikmati ketupat bersama. Ini adalah perwujudan nyata dari semangat kebersamaan dan persatuan yang diajarkan sejak zaman Kesultanan Demak oleh Walisongo.
Tradisi ini juga mengingatkan kita akan kekayaan budaya Indonesia yang mampu memadukan nilai-nilai agama dengan kearifan lokal secara harmonis, menciptakan identitas yang unik.
Opini dan Relevansi Masa Kini
Sebagai seorang editor, saya percaya bahwa tradisi ketupat ini adalah salah satu contoh brilliance dalam dakwah Islam di Nusantara. Sunan Kalijaga tidak hanya menyebarkan agama, tetapi juga memperkaya budaya dan menanamkan nilai-nilai luhur yang relevan hingga hari ini.
Di era modern yang serba cepat ini, filosofi ketupat mengajarkan kita untuk tidak melupakan akar budaya dan spiritualitas. Momen Lebaran adalah pengingat untuk introspeksi, memaafkan, dan mempererat ikatan sosial yang sering tergerus oleh kesibukan.
Ketupat bukan hanya makanan musiman, melainkan sebuah artefak budaya yang hidup, membawa pesan perdamaian, persatuan, dan penyucian diri dari masa lalu ke masa kini, dan diharapkan akan terus abadi.
