Ketupat, hidangan khas yang tak pernah absen dari meja saat Idul Fitri, menyimpan sejarah dan filosofi yang jauh lebih dalam dari sekadar anyaman daun kelapa berisi nasi. Tahukah Anda bahwa tradisi ini berakar kuat pada masa Kesultanan Demak, sekitar abad ke-15 Masehi?
Pada era gemilang Kesultanan Demak, ketupat bukan hanya sekadar makanan lezat. Ia diangkat menjadi simbol khusus pada perayaan Idul Fitri, menandai sebuah periode penyebaran ajaran Islam yang damai dan penuh makna di tanah Jawa.
Bagaimana cerita ketupat ini bermula dan apa tujuan sebenarnya di balik pembagiannya kepada rakyat kala itu? Mari kita selami lebih dalam warisan budaya yang tak ternilai ini.
Sejarah Singkat Kesultanan Demak & Peran Dakwah
Kesultanan Demak dikenal sebagai kerajaan Islam pertama dan terbesar di Jawa. Didirikan pada akhir abad ke-15, Demak memainkan peran sentral dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara, utamanya melalui para Walisongo.
Salah satu tokoh sentral dalam penyebaran Islam yang bijaksana adalah Sunan Kalijaga. Beliau dikenal karena pendekatannya yang akomodatif terhadap budaya lokal, memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi yang sudah ada.
Strategi dakwah inilah yang membuat Islam dapat diterima dengan damai oleh masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga memahami bahwa perubahan harus dilakukan secara bertahap, merangkul bukan mengganti total kebudayaan.
Ketupat: Bukan Sekadar Makanan, tapi Simbol Dakwah
Di sinilah peran ketupat menjadi sangat signifikan. Konon, Sunan Kalijaga adalah sosok di balik tradisi pembagian ketupat pada momen Idul Fitri. Tradisi ini kemudian dikenal dengan istilah "Lebaran Ketupat" atau "Bakda Kupat."
Pada masa Kesultanan Demak, ketupat dibagikan kepada rakyat dengan tujuan yang mulia. Pertanyaan "Digunakan untuk apa?" dijawab oleh para sejarawan dan budayawan sebagai sarana dakwah dan penyatuan umat setelah sebulan penuh berpuasa.
