Pemerintah akan memastikan bahwa metode yang digunakan tidak melanggar prinsip-prinsip dasar perlindungan anak. Setiap tindakan yang berpotensi merugikan perkembangan psikologis anak akan ditinjau ulang dan dievaluasi. Prioritas utama tetap pada kesejahteraan dan tumbuh kembang anak.
Kritik dan Perdebatan Publik
Kebijakan Gubernur Jawa Barat ini telah menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Ada yang mendukung kebijakan tersebut sebagai solusi efektif mengatasi kenakalan remaja. Namun, tidak sedikit pula yang menentang kebijakan ini dengan alasan pendidikan bukan medan perang dan dapat berdampak traumatis bagi anak.
Lembaga perlindungan anak, seperti JPPI (Jaringan Pendidikan Progresif Indonesia), misalnya, secara tegas menolak kebijakan ini. Mereka berpendapat bahwa pendidikan seharusnya mengedepankan pendekatan humanis dan tidak menggunakan metode yang bersifat represif dan militeristik. Pendidikan yang baik, menurut mereka, lebih berfokus pada pembinaan karakter dan pengembangan potensi anak.
Alternatif Pendekatan yang Lebih Humanis
Para kritikus kebijakan ini menyarankan agar pemerintah fokus pada pendekatan yang lebih humanis dan rehabilitatif. Beberapa alternatif yang diusulkan antara lain: konseling individual dan kelompok, program pengembangan karakter berbasis nilai-nilai positif, serta kerja sama yang lebih erat antara sekolah, orang tua, dan komunitas.