“Di masa lalu, pemain Italia punya karakter kuat. Mereka rela berdarah-darah demi lambang negara. Sekarang? Rasanya ada yang hilang,” ujar seorang mantan pemain timnas yang enggan disebut namanya, menyiratkan keprihatinan mendalam.
Zona Nyaman Liga Domestik
Salah satu argumen pendukung teori “anak mama” adalah kurangnya keinginan pemain Italia untuk keluar dari zona nyaman Serie A. Banyak talenta memilih bertahan di liga domestik, bahkan jika itu berarti minimnya jam terbang atau tantangan baru.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang banyak merantau ke liga-liga top Eropa lain untuk mengasah kemampuan dan mentalitas, pemain Italia kini relatif jarang terlihat dominan di luar Italia. Ini membatasi paparan mereka terhadap gaya bermain dan tekanan yang berbeda.
Akar Masalah Lebih Dalam: Bukan Sekadar Mentalitas
Meski teori “anak mama” menarik perhatian, masalah kegagalan Italia jauh lebih kompleks daripada sekadar isu mentalitas individu. Ada banyak faktor struktural dan sistemik yang berkontribusi pada kemunduran sepak bola Negeri Pizza ini.
Krisis Pembinaan Pemain Muda
Salah satu akar masalah utama adalah krisis dalam pembinaan pemain muda. Klub-klub Serie A, yang mayoritas kini dimiliki investor asing, cenderung lebih memilih membeli pemain jadi dari luar negeri ketimbang memberikan kesempatan kepada talenta muda lokal.
Ini membuat banyak pemain muda Italia berbakat kesulitan menembus tim utama atau mendapatkan waktu bermain yang cukup untuk berkembang. Akibatnya, regenerasi tim nasional menjadi terhambat dan kualitas pemain pun tidak merata.
