- Sergio Aguero (18′)
- Vincent Kompany (58′)
- David Silva (65′)
Final 2019: Man City vs Chelsea (0-0, penalti 4-3)
Final ini dikenal karena insiden kontroversial Kepa Arrizabalaga menolak diganti. Namun, City tetap tenang dan berhasil mengatasi tekanan di adu penalti yang penuh drama.
Tanpa gol di waktu normal dan tambahan waktu, drama berlanjut ke adu penalti. City sekali lagi membuktikan mental baja mereka, dengan Raheem Sterling mencetak penalti penentu kemenangan. Tidak ada pencetak gol di waktu reguler dari kedua tim.
- Tidak ada pencetak gol di waktu normal.
Final 2020: Man City vs Aston Villa (2-1)
City mengamankan trofi ketiga berturut-turut dalam final yang ketat melawan Aston Villa. Mereka harus bekerja keras untuk meraih kemenangan di tengah tantangan yang diberikan oleh tim lawan.
Sergio Aguero dan Rodri mencetak gol di babak pertama, memberikan keunggulan. Meskipun Villa membalas lewat Mbwana Samatta, City mampu mempertahankan keunggulan hingga akhir, menunjukkan ketahanan mereka.
- Sergio Aguero (20′)
- Rodri (30′)
Final 2021: Man City vs Tottenham Hotspur (1-0)
Final ini menjadi sejarah saat City meraih rekor empat gelar Piala Liga berturut-turut. Sebuah pencapaian yang luar biasa di bawah Pep Guardiola yang belum pernah dicapai oleh klub lain.
Gol tunggal Aymeric Laporte di menit-menit akhir babak kedua sudah cukup untuk mengamankan trofi. Dominasi City di kompetisi ini semakin tak terbantahkan, memperkuat reputasi mereka sebagai raja piala domestik.
- Aymeric Laporte (82′)
Mengapa City Begitu Dominan di Piala Liga?
Dominasi Manchester City di Piala Liga bukanlah kebetulan semata. Ada beberapa faktor kunci yang menjadikannya kekuatan tak tertandingi di kompetisi ini, terutama dalam satu dekade terakhir yang penuh kesuksesan.
Pertama, kedalaman skuad mereka yang fantastis. Pep Guardiola dan para manajer sebelumnya selalu memiliki opsi rotasi pemain berkualitas tinggi, bahkan di bangku cadangan. Ini memungkinkan pemain kunci untuk beristirahat tanpa mengorbankan kualitas tim.
Kedua, mentalitas juara yang tertanam kuat. Bagi City, setiap trofi adalah penting, tidak peduli seberapa “kecil” itu dibandingkan Liga Champions atau Premier League. Mereka selalu tampil serius di setiap pertandingan, menunjukkan rasa hormat terhadap setiap kompetisi.
Ketiga, gaya bermain yang konsisten dan adaptif. City di bawah Guardiola memiliki filosofi menyerang yang jelas, namun juga mampu beradaptasi dengan lawan dan situasi pertandingan. Hal ini seringkali terlalu berat bagi tim-tim lain di kompetisi piala yang formatnya sistem gugur.
Pep Guardiola sendiri juga memiliki rekor luar biasa di kompetisi piala. Ia dikenal sebagai manajer yang sangat mengutamakan kemenangan di setiap turnamen, menanamkan etos kerja keras dan fokus pada setiap detail.
