“Rasanya pasti aneh shalat Ied pakai jaket tebal dan sarung tangan,” ujar seorang mahasiswa asal Bandung, Ani. “Tapi ini akan jadi cerita yang tak terlupakan seumur hidup.”
“Toko-Toko Tetap Buka”: Sebuah Perbedaan Mencolok
Salah satu fakta menarik yang menonjol dari Lebaran di Turki adalah aktivitas ekonomi yang relatif tetap berjalan. Berbeda jauh dengan Indonesia, di mana hampir semua toko, kantor, dan bahkan jalanan utama bisa sepi total.
Budaya Liburan dan Ekonomi Lokal
Di Turki, perayaan Idulfitri, yang mereka sebut Ramazan Bayramı (Festival Ramadhan) atau Şeker Bayramı (Festival Gula), adalah hari libur nasional. Namun, tidak semua sektor berhenti total.
Terutama di kota besar seperti Istanbul yang mengandalkan sektor pariwisata, banyak toko oleh-oleh, restoran, museum, dan transportasi publik tetap beroperasi normal atau dengan jam operasional yang sedikit disesuaikan. Ini demi melayani wisatawan dan juga kebutuhan warga lokal.
Pusat perbelanjaan modern mungkin buka lebih lambat, tetapi toko-toko kecil di lingkungan padat penduduk atau di area turis cenderung tetap buka. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk tetap mencari kebutuhan atau bahkan sekadar berjalan-jalan menikmati kota.
Tradisi Lebaran Ala Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua
Meskipun jauh dari keluarga dan suasana tropis, mahasiswa Indonesia di Turki tetap berupaya menjaga semangat dan tradisi Idulfitri seketat mungkin. Komunitas mahasiswa menjadi pondasi utama.
Menjaga Semangat Idulfitri
Pada pagi hari Idulfitri, prioritas utama adalah menunaikan shalat Ied berjamaah. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ankara atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Istanbul biasanya akan menyelenggarakan shalat Ied.
Selain itu, kelompok-kelompok mahasiswa juga sering berinisiatif mengadakan shalat Ied di masjid lokal atau pusat kegiatan mahasiswa, diikuti dengan silaturahmi dan halal bihalal sederhana.
“Yang paling penting itu kumpul bareng teman-teman senasib sepenanggungan,” kata Rian, mahasiswa teknik di Istanbul. “Meskipun dingin, kebersamaan itu yang menghangatkan.”
