Gorontalo – Arah Langkah Anak Muda (ALAM) kembali menghadirkan ruang dialog kritis melalui Diskusi Publik bertema “Generasi Muda di Persimpangan: Antara Gelar, Skill, dan Nilai Kemanusiaan.” Salah satu sesi yang paling menyita perhatian adalah pemaparan dari Ahmad Afandi, seorang dosen muda dengan prestasi nasional dan internasional, sekaligus sosok pendidik yang konsisten menyuarakan pendidikan humanis.
Dalam materinya yang berjudul “Pendidikan Humanis: Menyatukan Gelar dan Kemanusiaan,” Afandi menekankan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pabrik gelar. Ia menyebut bahwa kampus seharusnya menjadi arena pembentukan manusia yang adaptif, kompeten, dan berkepribadian sosial.
Afandi merujuk pada data tahun 2020 yang mencatat 9,77 juta masyarakat Indonesia mengalami kondisi pengangguran, sebagai refleksi bahwa orientasi pendidikan yang hanya mengejar gelar tidak lagi cukup. “Jika perguruan tinggi tidak mengukur kinerjanya secara adaptif, maka kita akan tertinggal dalam kompetisi masa depan,” ungkapnya.
Dalam pandangannya, pendidikan humanis hadir sebagai jembatan antara gelar dan kemanusiaan: sebuah pendekatan yang tidak hanya menekankan kompetensi akademik, tetapi juga kesadaran sosial dan kepekaan terhadap realitas masyarakat. Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus melihat dirinya sebagai bagian dari masyarakat, bukan hanya individu yang mengejar masa depan pribadi.
“Peran mahasiswa bukan hanya di dalam kelas saja, namun juga di luar kelas sebagai nilai tambahan dalam menunjang masa depan yang mulia,” ujar Afandi saat menyampaikan pentingnya pengalaman sosial, kegiatan organisasi, pengabdian masyarakat, serta kontribusi di lingkungan sekitar sebagai bekal menghadapi dunia kerja dan kehidupan.
Lebih jauh, ia mengajak generasi muda untuk kembali menyadari fungsi mereka sebagai agent of change. Menurutnya, anak muda perlu memiliki kepekaan sosial: mampu merasakan, membaca, sekaligus terlibat dalam persoalan yang terjadi di sekeliling mereka. Namun, ia mengingatkan agar semangat tersebut tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa.
Afandi menutup sesi dengan pesan kuat: bahwa masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh gelar akademik atau tumpukan sertifikat, melainkan oleh manusia-manusia muda yang memiliki integritas, empati, dan kemampuan untuk terus belajar. Pendidikan humanis, bagi Afandi, adalah jalan untuk menyatukan kecakapan akademik dengan nilai kemanusiaan—sebuah perpaduan yang ia yakini menjadi modal utama generasi muda untuk melangkah di persimpangan zaman.







