Gorontalo – Suara tegas datang dari kalangan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terkait insiden yang melibatkan Kepala Cabang BNI Gorontalo. Mahasiswa menilai pihak bank telah merendahkan martabat intelektual setelah melontarkan pernyataan yang dianggap sebagai penghinaan dan pembunuhan karakter terhadap mahasiswa.
Agung Bobihu, salah satu mahasiswa UNG, menegaskan bahwa kritik yang disampaikan mahasiswa di media massa semestinya dijawab dengan dialog konstruktif, bukan dengan arogansi.
“Yang kami terima bukan diskusi sehat, melainkan penghinaan. Kalimat yang dilontarkan jelas merendahkan kapasitas mahasiswa. Ini bukan hanya persoalan pribadi, melainkan tamparan bagi seluruh civitas akademika UNG yang menjunjung tinggi etika, demokrasi, dan nilai intelektual,” tegas Agung.
Menurutnya, kerja sama antara UNG dan BNI sejatinya dibangun di atas prinsip saling menghormati. Namun, insiden tersebut justru memperlihatkan sebaliknya.
“Apa artinya kerja sama jika mahasiswa dipermalukan di depan pimpinan Fakultas Ekonomi? Universitas sebagai rumah intelektual tidak boleh tinggal diam. Membiarkan hal ini berarti menggadaikan harga diri kampus,” ujarnya.
Agung menekankan, mahasiswa adalah agen moral bangsa yang menyuarakan aspirasi publik, bukan untuk kepentingan pribadi. Karena itu, UNG diminta mengambil sikap tegas dengan memutuskan kerja sama bersama BNI.
“Jika suara mahasiswa dianggap ancaman, maka BNI tidak layak lagi menjadi mitra UNG. Universitas harus berdiri tegak membela mahasiswa,” katanya.
Lebih jauh, Agung menilai pemutusan kerja sama bukan hanya langkah administratif, melainkan langkah moral untuk menjaga martabat kampus.
“UNG harus mengirim pesan jelas bahwa harga diri mahasiswa jauh lebih berharga daripada sekadar hubungan bisnis dengan sebuah bank. Jika berani mengambil sikap, maka UNG meneguhkan jati dirinya sebagai benteng demokrasi, etika, dan intelektualitas di Gorontalo,” tutup Agung.







