BI Pangkas Suku Bunga, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen

20 Agustus 2025, 18:47 WIB

Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan memangkas suku bunga acuannya. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu, 20 Agustus. BI memangkas BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps), menjadi 5 persen dari sebelumnya 5,25 persen.

Penurunan suku bunga ini juga berdampak pada suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility. Deposit Facility turun 25 bps menjadi 4,25 persen, sementara Lending Facility turun 25 bps menjadi 6,75 persen. Langkah ini diambil BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan alasan di balik penurunan suku bunga tersebut. “Keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5±1 persen, terjaganya stabilitas nilai tukar Rupiah, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dengan kapasitas perekonomian,” ujar Perry dalam konferensi pers.

BI optimistis dengan langkah ini. Ke depannya, BI akan terus memantau perkembangan ekonomi dan inflasi untuk menentukan langkah selanjutnya. Ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut masih terbuka, asalkan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga.

Kebijakan makroprudensial longgar juga akan diperkuat. Tujuannya untuk meningkatkan kredit/pembiayaan, menurunkan suku bunga perbankan, dan meningkatkan likuiditas. Semua ini ditujukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Selain itu, BI juga fokus pada pengembangan sistem pembayaran digital. Ekspansi akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, dan peningkatan daya tahan infrastruktur sistem pembayaran menjadi prioritas. Hal ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.

Namun, prediksi sebelum pengumuman RDG justru berbeda. Myrdal Gunarto, Staf Bidang Ekonomi, Industri, dan Global Markets dari Bank Maybank Indonesia, memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,25 persen.

Myrdal berpendapat bahwa mempertahankan suku bunga acuan adalah langkah antisipatif terhadap dampak perang tarif terhadap inflasi global dan domestik. Ia menunjuk inflasi Juli 2025 yang mencapai 2,37 persen dan nilai tukar rupiah yang masih di bawah tekanan (sekitar Rp 16.200) sebagai alasannya.

“Dari kita sih stay sih. Masih sama 5,25 persen. Belum dulu cut, karena kelihatannya BI masih akan antisipasi dampak dari perang tarif ya terhadap inflasi global, termasuk juga terhadap inflasi domestik,” ungkap Myrdal.

Faktor lain yang dipertimbangkan Myrdal adalah aksi *profit taking* investor asing dan sikap wait-and-see pelaku pasar yang menantikan keputusan suku bunga The Fed bulan depan. Ia juga menyoroti perlunya BI mengevaluasi dampak penurunan suku bunga sebelumnya pada Mei dan Juli 2025. “BI juga kemungkinan masih akan melihat perkembangan imbas dari kebijakan penurunan suku bunga yang mereka lakukan bulan Mei dan juga periode bulan Juli,” tambahnya.

Perbedaan prediksi antara BI dan analis perbankan ini menunjukkan kompleksitas faktor yang mempengaruhi kebijakan moneter. Keputusan BI untuk menurunkan suku bunga, meskipun mengejutkan beberapa pihak, menunjukkan komitmen BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sambil tetap menjaga stabilitas makroekonomi. Langkah selanjutnya BI akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan nilai tukar Rupiah dalam beberapa bulan ke depan. Pemantauan ketat terhadap dampak penurunan suku bunga ini juga menjadi krusial untuk evaluasi kebijakan selanjutnya.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang