Akurasi Pengukuran RON BBM: SPBU Swasta vs Pertamina, Mana yang Lebih Tepat?

12 April 2025, 20:17 WIB

Kualitas bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia menjadi perhatian penting. Berbagai jenis BBM dengan Research Octane Number (RON) berbeda tersedia, disesuaikan dengan kebutuhan kendaraan. Namun, perbedaan ini juga berpotensi menimbulkan masalah.

Kasus BBM oplosan yang pernah terjadi menunjukkan betapa pentingnya pengawasan kualitas BBM. Konsumen seringkali sulit untuk memverifikasi kualitas BBM yang mereka beli secara mandiri. Pengujian RON membutuhkan alat khusus, sehingga kontrol kualitas umumnya dilakukan oleh lembaga terkait sebelum BBM dipasarkan.

Untuk menguji RON BBM, dibutuhkan alat seperti Oktis 2 atau Coordinating Fuel Research (CFR) Engine. Kedua alat ini digunakan untuk mengukur RON pada berbagai jenis BBM, misalnya dengan RON 90, 92, 95, dan 98. Namun, akurasi kedua alat ini perlu dipertanyakan.

Pengujian RON BBM dengan Oktis-2 dan CFR Engine

Sebuah penelitian dilakukan oleh Dr. Tri Yuswidjajanto Zaenuri dari ITB. Ia menggunakan alat Oktis-2 untuk mengukur RON dari 12 sampel bensin berbagai merek dan RON yang berbeda. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan RON pada bahan bakar yang seharusnya memiliki RON yang sama.

Alat Oktis-2, yang dikalibrasi berdasarkan standar Rusia atau Eropa, menunjukkan ketidakstabilan dan kurang akurat dalam mengukur RON. Alat ini mengukur sifat dielektrik bahan bakar, kemudian mengkorelasikannya dengan RON, tanpa ada proses pembakaran yang sebenarnya terjadi. Hal ini berbeda dengan definisi RON sebenarnya.

Untuk mendapatkan hasil pengukuran RON yang akurat dan terpercaya, dibutuhkan pengujian menggunakan mesin CFR (Coordinating Fuel Research) Engine. Pengujian dengan CFR Engine dilakukan pada putaran mesin 600 RPM sesuai standar ASTM D2699, yang mensimulasikan kondisi pembakaran di dalam mesin. Proses ini jauh lebih akurat daripada penggunaan Oktis-2.

Perbandingan Oktis-2 dan CFR Engine

Oktis-2 lebih praktis dan mudah digunakan, tetapi kurang akurat karena hanya mengukur sifat dielektrik, bukan proses pembakaran aktual. Sedangkan CFR Engine lebih kompleks dan memerlukan keahlian khusus, namun memberikan hasil yang lebih akurat dan sesuai standar internasional.

Perbedaan hasil pengukuran antara Oktis-2 dan CFR Engine dapat terjadi karena metode pengukuran yang berbeda. Oktis-2 memberikan hasil yang cenderung lebih tinggi dari nilai RON sebenarnya. Hal ini tentu dapat merugikan konsumen, terutama jika terjadi penyimpangan yang signifikan.

Hasil Pengujian dan Kesimpulan

Pengujian independen menggunakan CFR Engine dilakukan untuk memvalidasi hasil pengukuran Oktis-2. Proses pengujian melibatkan pembacaan data berkali-kali dan dilakukan oleh operator bersertifikat, memastikan kualitas dan akurasi data. Hasil pengujian menunjukkan perbedaan signifikan antara hasil Oktis-2 dan CFR Engine.

Dari penelitian ini terlihat bahwa Oktis-2 kurang ideal untuk mengukur RON BBM dengan presisi tinggi. Meskipun mudah digunakan, akurasi hasilnya perlu dipertanyakan. CFR Engine tetap menjadi standar emas untuk pengukuran RON, meskipun prosedurnya lebih kompleks dan membutuhkan keahlian khusus.

Gambar hasil pengujian menunjukkan perbedaan nilai RON yang terukur antara metode Oktis-2 dan CFR Engine. Perbedaan ini menunjukkan pentingnya penggunaan metode pengujian yang tepat dan terstandarisasi untuk memastikan kualitas BBM yang beredar di pasaran.

Penting bagi lembaga terkait untuk terus meningkatkan pengawasan dan memastikan akurasi pengukuran RON BBM, demi melindungi konsumen dari potensi kerugian akibat kualitas BBM yang tidak sesuai standar.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan metode pengujian RON yang lebih praktis, akurat, dan mudah diakses oleh masyarakat luas. Hal ini akan memberikan kepastian dan kepercayaan bagi konsumen terhadap kualitas BBM yang mereka gunakan.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang