Tahun 2026 akan menjadi momen Idulfitri yang sangat unik bagi ribuan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Turki, khususnya di kota metropolitan Istanbul. Bukan hanya jauh dari keluarga, perayaan Lebaran kali ini akan berlangsung di tengah musim dingin yang menusuk tulang.
Sebuah pengalaman langka di mana takbir berkumandang selaras dengan potensi turunnya salju, menciptakan suasana Lebaran yang jauh berbeda dari tradisi tropis di Tanah Air. Ini menjadi catatan penting bagi mahasiswa yang merayakannya.
Fenomena Lebaran di Musim Dingin: Mengapa Bisa Terjadi?
Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana bisa Lebaran jatuh di musim dingin? Jawabannya terletak pada perbedaan kalender yang digunakan umat Islam dan kalender Gregorian yang umum dipakai secara internasional.
Kalender Hijriah dan Pergeserannya
Kalender Hijriah atau kalender Islam adalah kalender lunar yang berdasarkan pada siklus bulan mengelilingi bumi. Satu tahun Hijriah memiliki sekitar 354 atau 355 hari, yang berarti 10 hingga 11 hari lebih pendek dari tahun Masehi yang berdasarkan siklus matahari.
Perbedaan durasi ini menyebabkan hari-hari besar Islam, termasuk Idulfitri, bergeser maju sekitar 10 hingga 11 hari setiap tahun dalam kalender Masehi. Inilah mengapa Lebaran bisa jatuh di berbagai musim.
Secara bertahap, perayaan Idulfitri akan bergeser melewati semua musim dalam siklus kurang lebih 33 tahun. Setelah beberapa tahun di musim semi dan panas, ia akan kembali ke musim gugur, dan akhirnya, seperti tahun 2026, tiba di musim dingin.
Suasana Istanbul di Bulan Lebaran (yang Dingin!)
Istanbul, kota yang memukau dengan perpaduan budaya Eropa dan Asia, memiliki karakter musim dingin yang khas. Udara dingin, potensi hujan salju, dan suhu di bawah nol derajat Celsius bukanlah hal yang aneh.
Dinginnya Musim Salju Turki
Musim dingin di Istanbul biasanya berlangsung dari Desember hingga Februari atau bahkan awal Maret. Pada periode ini, suhu rata-rata bisa berkisar antara 3°C hingga 9°C, dengan beberapa hari yang jauh lebih dingin dan disertai salju.
Bayangkan suasana pagi Idulfitri, bukannya disambut mentari hangat dan keramaian tetangga yang berbusana cerah, melainkan embusan angin dingin dan mungkin saja lanskap kota yang diselimuti putihnya salju.
