Film Horor Sengkolo Sukses Gemparkan Bioskop Semarang Dibintangi Dua Aktor Ternama

16 Januari 2026, 23:47 WIB

Film horor “Sengkolo: Petaka Satu Suro” telah menjadi salah satu tontonan paling dinanti di awal tahun 2026. Film ini tidak hanya menyajikan adegan-adegan yang mencekam, tetapi juga menggali kisah kelam yang berakar pada mitos, dendam, dan pengorbanan. Proses pengambilan gambar yang dilakukan di pesisir Kebumen, Jawa Tengah, berhasil menciptakan atmosfer sunyi, mistis, dan mencekam, seolah menjadi saksi bisu dari petaka yang akan terungkap.

Antusiasme penonton semakin terasa saat film ini ditayangkan di bioskop Mal Ciputra Semarang pada Jumat (16/1). Penayangan spesial ini turut dihadiri oleh para pemeran utamanya, yang menambah semarak acara.

Aulia Sarah tampil memukau sebagai Rahayu, seorang bidan desa berhati lembut namun menyimpan luka mendalam. Sementara itu, Agla Artalidia memerankan Marni, sahabat setia Rahayu yang selalu sigap mencatat data pasien dan menemani aktivitas kesehariannya. Bayu Ramli turut hadir sebagai Lurah Desa, seorang pemimpin yang berusaha menjaga ketenangan warganya di tengah teror yang semakin merajalela.

Kejutan tak berhenti sampai di situ. Setelah film usai diputar, suasana bioskop mendadak riuh. Para penonton yang masih terbawa ketegangan dikejutkan oleh kemunculan para pemain utama secara tiba-tiba di dalam studio. Rahayu, Marni, dan Pak Lurah berdiri di hadapan penonton, disambut teriakan kaget dan antusias yang memecah keheningan. Banyak penonton yang bergegas maju untuk mengabadikan momen bersama para idola mereka.

Dalam sesi tak terduga tersebut, para pemain juga berbagi kebahagiaan dengan membagikan beberapa doorprize kepada penonton yang berhasil menjawab pertanyaan seputar film. Acara ini menjadi penutup manis setelah pengalaman horor yang menegangkan.

Sebelumnya, film “Sengkolo: Petaka Satu Suro” telah membuka kisahnya dengan adegan yang langsung menyentuh psikologis penonton. Di tengah alas pedesaan yang gelap dan diselimuti kabut, seorang ibu hamil terlihat berlari tertatih dengan wajah penuh ketakutan. Napasnya terengah, langkahnya semakin melemah, sementara sosok hantu mengerikan terus mengejarnya tanpa ampun.

Tak ada tempat untuk bersembunyi, hingga akhirnya ibu hamil itu tertangkap. Dengan kejam, makhluk tersebut membelah perutnya dan merenggut bayi yang belum sempat melihat dunia. Adegan ini menjadi teror awal yang membekas, terutama bagi para ibu hamil yang menyaksikannya.

Di tengah ketakutan yang menyelimuti desa, muncullah sosok Rahayu. Ia adalah bidan desa yang dikenal baik hati dan selalu siap membantu siapa pun. Namun, kehidupan Rahayu tidaklah mudah. Ia menyimpan duka mendalam setelah suami dan anak pertamanya meninggal akibat cuaca buruk saat melaut. Kini, Rahayu harus menjalani hidup seorang diri, sembari mengandung anak keduanya.

Ironisnya, kehamilan tersebut terjadi justru saat desa berada dalam kondisi paling tidak aman, dihantui rumor dan kematian misterius. Teror mencapai puncaknya saat Malam 1 Suro tiba. Hujan deras mengguyur desa tanpa henti, petir menyambar, angin melolong, dan aura mistis terasa semakin pekat.

Di malam keramat itu, Rahayu dibonceng Marni menggunakan sepeda motor untuk membantu persalinan salah satu warga. Namun, di tengah perjalanan, motor mereka menghantam lubang besar hingga terjatuh. Dalam kondisi terluka dan hujan yang semakin deras, Rahayu mulai merasakan kontraksi hebat. Tak ada pilihan lain, ia harus melahirkan di tengah jalan, di bawah ancaman kekuatan jahat yang mengincar bayinya.

Marni, sahabat yang selama ini dipercaya, membantu proses persalinan Rahayu di tengah hujan. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Tanpa diduga, Marni justru membunuh bayi tersebut.

“Kok tidak ada suaranya,” tanya Rahayu kepada Marni.

“Bayinya berwarna biru (meninggal),” jawab Marni.

Mendengar itu, Rahayu hancur. Tangisnya pecah di tengah badai. Melihat penderitaan Rahayu, Marni menawarkan harapan palsu: bayi itu bisa hidup kembali, asal dibawa ke dukun.

“Bayi ini bisa hidup lagi kalau dibawa ke dukun,” ujar Marni menawarkan.

Rahayu yang merasa kesepian dan tidak memiliki keluarga akhirnya memenuhi permintaan Marni.

Kebenaran pun terungkap. Rahayu ternyata dijadikan korban. Marni menyimpan dendam mendalam pada kehidupan karena ia mandul, rumah tangganya hancur, dan suaminya tenggelam dalam mabuk-mabukan. Marni ingin Rahayu merasakan penderitaan yang sama. Bayi Rahayu memang berhasil dihidupkan kembali, tetapi dengan perjanjian mengerikan: saat anak itu berusia tujuh tahun, tepat pada Malam 1 Suro, harus ada tumbal bayi sebagai sesaji.

Kutukan itu perlahan mengubah segalanya. Dalam film, ketika tiba waktunya memberikan sesaji, Rahayu berubah menjadi sosok hantu yang menakutkan. Ia kehilangan kemanusiaannya, membunuh para ibu hamil di desa demi mengambil bayi mereka. Rahayu, sang bidan penyelamat, kini menjadi teror paling mengerikan.

Usai pemutaran bersama, Bayu Ramli, yang merupakan warga asli Kabupaten Semarang, mengungkapkan kesannya. Ia menyebut film ini sangat menegangkan, dari awal hingga akhir benar-benar menguras adrenalin. Adegan demi adegan terasa kuat berkat penggarapan yang luar biasa, mulai dari tata rias, pencahayaan, hingga atmosfer horor yang dibangun dengan detail.

“Untuk yang kelima kalinya saya ikut terlibat dalam pembuatan film yang besar di sini karena dari perusahaan yang besar. Saya bangga banget, saya terima kasih sekali,” ujar Bayu Ramli penuh semangat.

Tak hanya itu, Bayu juga memuji akting para pemain utama yang dinilainya sangat total. Baginya, bermain bersama para artis muda menjadi tantangan sekaligus pengalaman berharga. Ia merasa bersyukur diberi kesempatan untuk terus belajar dan mengasah kemampuan akting di dunia perfilman. Meski telah terlibat dalam beberapa film sebelumnya, Bayu mengaku tak menyangka hasil akhir “Sengkolo” akan sekeren ini.

“Ini merupakan satu pengalaman dan satu pembelajaran bagi saya untuk lebih mengasah akting saya di jagat perfilman,” ujar Bayu Ramli.

Sebagai aktor yang kerap dipercaya memerankan karakter horor, terutama sebagai Pak Lurah, Bayu merasa peran tersebut sangat ia hayati. Ia menikmati setiap prosesnya dan berharap ke depan bisa terus dipercaya memerankan karakter yang lebih dalam dan utuh. Ke depan, ia juga mengungkapkan rencana keterlibatannya dalam film horor lain dengan lokasi syuting penuh di Semarang, sebagai langkah lanjutan dalam perjalanan kariernya di dunia film.

“Insyaallah kami akan mendapatkan tawaran-tawaran film horor yang untuk lebih mengasah akting saya,” tutupnya.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang