Ia mungkin mengharapkan “Artificial General Intelligence (AGI),” yaitu AI yang setara atau melebihi kecerdasan manusia dalam berbagai tugas kognitif, sebuah tujuan yang masih jauh dari kenyataan saat ini.
Kontras dengan Gemuruh Hype AI Saat Ini
Pernyataan Wozniak ini datang di tengah gelombang besar antusiasme terhadap AI generatif seperti ChatGPT, Google Bard, dan berbagai inovasi lainnya. Dunia sedang dibuat terkesima dengan kemampuan AI dalam menciptakan konten, menjawab pertanyaan kompleks, dan bahkan membuat kode program.
Perusahaan-perusahaan teknologi berlomba-lomba berinvestasi miliaran dolar, sementara masyarakat umum mulai merasakan dampak AI dalam kehidupan sehari-hari. Hype ini begitu besar, sehingga skeptisisme Wozniak terdengar kontras dan menyegarkan.
Pandangan Lain dari Para Tokoh Teknologi
Wozniak bukan satu-satunya tokoh teknologi yang menyuarakan pandangan kritis terhadap AI. Elon Musk, misalnya, telah lama memperingatkan potensi bahaya AI yang tidak terkontrol, sementara Bill Gates juga pernah menyatakan keprihatinan serupa.
Namun, ada juga Sam Altman dari OpenAI atau Sundar Pichai dari Google yang sangat optimistis tentang masa depan AI. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa diskusi tentang AI masih sangat dinamis, dan belum ada konsensus mutlak.
Filosofi Wozniak: Praktis dan Revolusioner
Untuk memahami kekecewaan Wozniak, penting untuk melihat kembali filosofi dan rekam jejaknya. Steve Wozniak dikenal sebagai seorang insinyur jenius yang fokus pada fungsionalitas, kemudahan penggunaan, dan inovasi yang benar-benar mengubah cara orang berinteraksi dengan teknologi.
Ia adalah tipe perancang yang membangun Apple I di garasi dengan komponen-komponen yang relatif sederhana, namun menghasilkan mesin yang revolusioner. Karyanya selalu tentang memberdayakan individu melalui teknologi yang intuitif dan praktis.
