Dalam era kecerdasan buatan (AI) yang semakin berkembang, muncul sebuah pertanyaan penting: Apakah kita perlu belajar coding untuk bertahan hidup? Banyak yang percaya bahwa dengan semakin banyaknya pekerjaan yang akan diotomatisasi, kemampuan untuk memprogram menjadi kunci untuk masa depan. Namun, benarkah demikian? Atau justru ada keterampilan lain yang lebih penting untuk dikuasai?
Jensen Huang, CEO Nvidia, pernah menyatakan bahwa jika ia kembali ke usia 20 tahun, ia tidak akan memilih untuk belajar ilmu komputer. Melainkan, ia akan memilih fisika. Pendapat ini mengundang perdebatan, karena ia menyiratkan bahwa masa depan teknologi tidak hanya tentang kemampuan memerintah mesin, tetapi juga tentang memahami dunia di mana teknologi itu beroperasi.
Masa Depan Tanpa Penerjemah Kode
Selama beberapa dekade, pekerjaan coding sering kali dianggap sebagai penerjemahan dari ide manusia ke dalam bahasa yang dimengerti oleh komputer. Namun, kita kini berada di ambang era di mana AI dapat melakukan tugas ini dengan lebih baik.
Bayangkan skenario di mana seorang arsitek cukup mengatakan kepada AI, “Rancang sebuah gedung apartemen 10 lantai yang hemat energi dengan estetika tropis,” dan dalam sekejap, AI dapat menghasilkan model BIM serta kode yang diperlukan. Atau seorang analis bisnis menginstruksikan, “Buat program untuk mengoptimalkan rantai pasok kita berdasarkan data penjualan tiga tahun terakhir,” dan AI pun langsung menulis script yang dibutuhkan.
Dalam konteks ini, kemampuan untuk menulis kode secara manual mungkin akan kehilangan nilai. AI akan menjadi penghubung antara bahasa manusia dan bahasa mesin. Manusia akan lebih fokus pada “apa” yang harus dilakukan, sementara AI akan mengurus “bagaimana” cara melakukannya melalui penulisan kode.
Fisika: Keterampilan yang Semakin Relevan
Dengan menurunnya nilai coding sebagai alat penerjemah, pertanyaan selanjutnya adalah, di mana letak tantangan terbesar di masa depan? Jawabannya ada di lingkungan fisik kita. Revolusi AI hingga saat ini banyak terjadi di ranah digital seperti analisis data dan pembuatan konten. Namun, potensi terbesar AI akan terwujud saat bisa berinteraksi secara cerdas dengan dunia nyata.
Di sinilah fisika menjadi sangat penting. Mengapa fisika? Karena hukum-hukum alam dan mekanika yang mengatur dunia kita adalah hasil dari prinsip-prinsip fisika. Untuk menciptakan robot humanoid yang dapat bergerak dan berinteraksi dengan benda, diperlukan pemahaman yang mendalam tentang mekanika, dinamika, dan keseimbangan.
Demikian pula, untuk merancang kendaraan otonom yang dapat melintasi berbagai kondisi jalan, kita harus dapat memodelkan gaya gesek, momentum, dan dinamika fluida.







