Menurut Hakimi, ia merasa kesulitan untuk membangun koneksi yang efektif dengan Messi di lapangan. Ia membutuhkan lebih banyak umpan langsung dan pergerakan yang memungkinkannya memaksimalkan kecepatannya.
Perbandingan dengan Gaya Bermain Hakimi di Klub Sebelumnya
Sebelum di PSG, Hakimi bersinar terang di Inter Milan di bawah asuhan Antonio Conte. Dalam skema 3-5-2 Conte, Hakimi berperan sebagai wing-back yang vital, menjadi outlet serangan utama di sisi kanan.
Ia sering menerima umpan panjang atau terobosan langsung dari lini belakang atau tengah, lalu dengan cepat menerobos ke depan. Inter memberikan ruang dan peran yang sangat spesifik yang memaksimalkan atribut terbaik Hakimi.
Di PSG, dengan adanya trio “MNM” (Messi, Neymar, Mbappé), peran Hakimi menjadi sedikit bergeser dan mungkin terasa kurang sentral dalam skema serangan. Bola cenderung lebih lama berada di kaki trio tersebut, mengurangi distribusi ke sayap.
Tantangan Mengintegrasikan Bintang dan Membangun Harmoni Tim
Kisah Hakimi ini menyoroti “masalah kemewahan” yang seringkali dihadapi oleh klub-klub bertabur bintang. Memiliki banyak pemain kelas dunia tidak secara otomatis menjamin kesuksesan atau harmoni dalam tim.
Setiap pemain memiliki gaya bermain, kebutuhan taktis, dan ekspektasi yang berbeda. Mengintegrasikan mereka menjadi satu kesatuan yang kohesif adalah tugas besar bagi setiap pelatih.
Tantangan Menyatukan Bintang
Pelatih PSG, dari Mauricio Pochettino hingga Christophe Galtier, menghadapi tekanan besar untuk menciptakan sistem yang bisa mengakomodasi Messi, Neymar, dan Mbappé sekaligus. Seringkali, ini berarti pemain lain harus beradaptasi atau membuat pengorbanan.
Achraf Hakimi, meskipun pemain bintang, mungkin adalah salah satu yang harus beradaptasi paling banyak. Gaya bermainnya yang agresif dan mengandalkan kecepatan seringkali kurang selaras dengan gaya Messi yang lebih mengontrol dan mendikte.
