Intervensi dari keluarga Hartono datang sebagai penyelamat. Dengan suntikan modal yang signifikan, mereka tidak hanya melunasi utang klub, tetapi juga memulai investasi besar-besaran untuk infrastruktur dan pengembangan tim.
Visi yang dibawa sangat jelas: membangun Como 1907 menjadi klub yang stabil secara finansial, kompetitif di lapangan, dan memiliki fondasi kuat untuk masa depan, baik dari segi pembinaan maupun manajemen.
Era Kebangkitan I Lariani di Bawah Bendera Indonesia
Sejak diakuisisi, Como 1907 telah menunjukkan transformasi yang luar biasa. Klub ini bukan lagi sekadar tim kecil di tepi danau, melainkan proyek ambisius yang dikelola secara profesional dengan sentuhan visi jangka panjang.
Investasi keluarga Hartono tidak hanya terbatas pada pembelian pemain. Mereka fokus pada pembangunan fasilitas latihan modern, perbaikan stadion Stadio Giuseppe Sinigaglia, serta pengembangan akademi muda yang berkualitas.
Di bawah kepemimpinan baru, Como 1907 berhasil merangkak naik dari Serie C ke Serie B, bahkan kini tengah berjuang keras untuk promosi ke Serie A. Kehadiran figur seperti Dennis Wise sebagai CEO dan Cesc Fabregas sebagai pemain sekaligus bagian dari staf pelatih turut mengangkat profil klub.
Filosofi Pembinaan dan Komitmen Komunitas
Salah satu pilar utama strategi keluarga Hartono adalah fokus pada pembinaan pemain muda. Mereka percaya bahwa investasi pada talenta muda lokal akan menjadi kunci keberlanjutan dan kesuksesan jangka panjang klub.
Selain itu, Como 1907 juga sangat aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan di wilayah Danau Como. Klub ini berupaya menjadi bagian integral dari komunitas, menunjukkan bahwa sepak bola adalah alat pemersatu.
Komitmen terhadap komunitas lokal dan pengembangan bakat muda ini menjadi cerminan nilai-nilai yang juga dijunjung tinggi oleh Grup Djarum di Indonesia, membuktikan bahwa filosofi bisnis mereka dapat diterapkan secara global.
Lebih dari Sekadar Pemilik: Mengapa Como 1907 Bersyukur
Maka, ketika Como 1907 menyampaikan pesan “Kami bersyukur dimiliki beliau”, itu bukan sekadar formalitas. Ungkapan tersebut adalah pengakuan tulus atas dampak transformatif yang dibawa oleh keluarga Hartono.
Rasa syukur itu muncul karena keluarga Hartono tidak hanya melihat Como 1907 sebagai investasi finansial semata. Mereka melihatnya sebagai sebuah warisan, sebuah entitas yang harus dipelihara dan dikembangkan dengan penuh dedikasi.
