Enam Petenis Putri Indonesia: Jejak Kejayaan di Grand Slam sejak 2004

23 Agustus 2025, 23:32 WIB

Janice Tjen berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan lolos ke babak utama US Open 2025. Kemenangannya atas unggulan ketiga Aoi Ito (Jepang) dengan skor 6-1, 6-2 menjadi tiket emasnya. Prestasi ini sekaligus menandai kembalinya petenis putri Indonesia di kancah Grand Slam setelah absen cukup lama.

Pertandingan yang berlangsung selama 49 menit itu menunjukkan permainan Janice yang solid. Ia mampu mencetak empat ace dan empat winner tanpa satu pun unforced error. Keberhasilan ini menjadikannya satu-satunya wakil Indonesia di babak utama US Open 2025.

Namun, Janice bukanlah petenis Indonesia pertama yang mencapai babak utama Grand Slam. Setidaknya ada enam atlet lainnya yang telah lebih dulu menorehkan prestasi serupa. Mereka adalah legenda-legenda tenis putri Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Mari kita telusuri jejak langkah mereka.

Lany Kaligis menjadi salah satu pionir petenis Indonesia di era terbuka Grand Slam. Debutnya di Australian Open 1968 membuatnya tercatat dalam sejarah. Prestasi terbaiknya adalah mencapai babak ketiga (R3) di nomor tunggal. Bersama Lita Liem Sugiarto, mereka bahkan mencapai perempat final ganda putri Wimbledon 1971.

Lita Liem Sugiarto, pasangan ganda Lany Kaligis, juga merupakan petenis handal. Ia turut serta dalam Australian Open 1968 dan 1970. Selain itu, Lita juga pernah berkompetisi di French Open (1974), US Open (1971), dan Wimbledon (1972). Pencapaiannya di tunggal sebanding dengan Lany Kaligis, namun prestasinya di ganda lebih menonjol.

Romana Tedjakusuma, lahir di Surabaya pada 24 Juli 1976, merupakan petenis tunggal putri Indonesia selanjutnya yang merasakan atmosfer Grand Slam. Puncak kariernya adalah pada 1994, di mana ia bermain di Australian Open, French Open, dan US Open. Hanya Wimbledon yang belum pernah ia jajal.

Yayuk Basuki, legenda hidup tenis Indonesia, tak perlu diragukan lagi prestasinya. Ia pernah menduduki peringkat 19 WTA. Yayuk Basuki ikut serta dalam lima turnamen Grand Slam, dengan debut di US Open 1991 dan 1997. Prestasi terbaiknya adalah mencapai perempat final di Wimbledon. Ini merupakan pencapaian tertinggi bagi petenis tunggal putri Indonesia di Grand Slam.

Wynne Prakusya melanjutkan estafet prestasi tenis putri Indonesia setelah Yayuk Basuki. Setelah terjun ke dunia profesional pada 1998, ia berhasil mencapai Australian Open dan US Open pada tahun 2001. Ia juga bermain ganda putri di Australian Open dan French Open pada tahun yang sama. Kariernya di Grand Slam berlanjut hingga 2003.

Angelique Widjaja, petenis terakhir yang mewakili Indonesia di tunggal putri Grand Slam sebelum Janice Tjen, memulai debut profesionalnya pada 1999. Tiga tahun kemudian, ia langsung berlaga di French Open, Wimbledon, dan US Open. Ia juga pernah berkompetisi di Australian Open pada 2003 dan 2004. Angelique bahkan mencapai perempat final ganda putri.

Janice Tjen telah membuktikan bahwa tenis putri Indonesia masih memiliki potensi besar. Prestasi ini diharapkan dapat memotivasi petenis-petenis muda Indonesia untuk berprestasi di kancah internasional. Keberhasilan Janice juga diharapkan dapat meningkatkan popularitas dan perkembangan tenis putri di Indonesia. Semoga ke depannya akan lebih banyak lagi petenis Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di ajang Grand Slam.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang