The Beatles di India: Rahasia Meditasi yang Mengubah Musik Selamanya!

24 Februari 2026, 10:26 WIB

The Beatles bertandang ke India utara pada awal 1968 bukan sekadar sebagai pelancong pencari sensasi eksotis.

Kedatangan mereka kala itu justru lebih mirip sebagai murid yang haus akan ilmu. Sejak tahun 1967, The Beatles telah secara terbuka menunjukkan ketertarikan dan keterlibatan mereka yang mendalam dengan Meditasi Transendental, sebuah praktik spiritual yang diperkenalkan oleh Maharishi Mahesh Yogi.

Bahkan, John Lennon dan George Harrison sempat tampil dalam sebuah acara televisi yang dipandu oleh David Frost pada musim gugur 1967. Dalam kesempatan tersebut, keduanya menjelaskan dengan nada tenang dan terukur mengenai disiplin meditasi tersebut.

Mereka memaparkan bagaimana praktik ini berdampak positif bagi pikiran dan kehidupan mereka. Penjelasan itu menekankan bahwa meditasi bukanlah bentuk mistisisme yang aneh, melainkan sebuah metode yang rasional dan terstruktur untuk meraih ketenangan batin.

Memasuki tahun 1968, popularitas Maharishi Mahesh Yogi semakin melambung. Majalah Life bahkan menjuluki tahun tersebut sebagai “Tahun Sang Guru” karena maraknya pemberitaan mengenai dirinya.

Tur dunianya telah membawanya berkeliling Eropa dan Amerika Utara, menyebarkan ajarannya ke berbagai penjuru. George Harrison sendiri pernah memperkenalkan Dennis Wilson dari The Beach Boys kepada Maharishi dalam sebuah acara UNICEF di Paris. Mike Love, anggota The Beach Boys lainnya, kemudian menggambarkan pengalamannya bersama Maharishi sebagai sebuah pengalaman yang sangat mendalam.

Namun, tidak semua pihak menyambut fenomena ini dengan tangan terbuka. Sebagian pers Inggris menunjukkan sikap skeptis. Majalah Private Eye, misalnya, memberikan julukan sinis kepada Maharishi.

Menanggapi kritik terkait sumbangan finansial yang diminta dalam ajaran tersebut, John Lennon memberikan tanggapan yang lugas.

“Jadi bagaimana kalau dia komersial? Kami adalah grup paling komersial di dunia,” ujar John Lennon, mencerminkan sikap terbuka sekaligus defensif terhadap tudingan yang berkembang.

Situasi menjadi semakin kompleks dengan wafatnya manajer mereka, Brian Epstein.

Peter Brown, salah satu staf The Beatles, kemudian mengingat adanya kekhawatiran bahwa Maharishi tengah menjajaki proyek media. Kekhawatiran ini mencuat seiring dengan adanya pembicaraan dengan jaringan televisi ABC di Amerika Serikat, yang diduga akan melibatkan The Beatles.

Brown bahkan sampai terbang ke Malmö untuk membicarakan langsung persoalan tersebut. Dalam salah satu kunjungannya, George Harrison dan Paul McCartney turut menemaninya.

Brown mengenang respons Maharishi yang cenderung ringan, bahkan disertai tawa kecil. George Harrison, menurut Brown, membela sang guru dengan mengatakan bahwa Maharishi bukanlah sosok modern yang memahami seluk-beluk industri hiburan.

Harrison menilai kesalahpahaman yang terjadi lebih karena perbedaan perspektif daripada adanya niat tersembunyi.

Dalam hitungan minggu, Rishikesh yang awalnya terasa sebagai tempat perlindungan spiritual akan berubah menjadi sumber kekecewaan dan perpecahan.

Namun, pada saat pertama kali mereka tiba, keempat anggota band itu benar-benar percaya bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang lebih permanen: ketenangan, makna, dan mungkin arah baru setelah masa penuh gejolak di puncak ketenaran dunia.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang