Kedua, fokus pada daya saing berarti PTN menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan relevan dan siap bersaing di pasar kerja global. Ini berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dengan demikian, PTN dapat berperan lebih besar sebagai pusat keunggulan dan inovasi, bukan hanya sebagai ‘pabrik’ pencetak sarjana S1 massal. Ini juga berpotensi menggeser sebagian beban pendidikan S1 ke institusi lain.
Peran Krusial Perguruan Tinggi Swasta (PTS)
Jika PTN membatasi kuota S1 dan bergeser fokus, maka Perguruan Tinggi Swasta (PTS) akan memegang peran yang jauh lebih krusial. PTS memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung penyedia akses pendidikan tinggi bagi banyak mahasiswa.
Universitas Paramadina, sebagai salah satu PTS terkemuka, secara tidak langsung menunjukkan bahwa PTS siap mengisi kekosongan ini. Banyak PTS yang menawarkan program studi berkualitas dengan fleksibilitas dan pendekatan yang berbeda dari PTN.
Pemerintah dan masyarakat perlu memberikan dukungan lebih besar kepada PTS. Ini bisa melalui program akreditasi yang ketat namun adil, bantuan pendanaan, hingga penyediaan beasiswa yang tidak hanya terfokus pada PTN.
Bagaimana PTS Dapat Mendukung Mahasiswa Kurang Mampu?
PTS memiliki berbagai mekanisme untuk mendukung mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Mereka seringkali memiliki program beasiswa internal, kerja sama dengan yayasan donatur, atau skema cicilan biaya yang lebih fleksibel.
