Persaingan sengit untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sudah menjadi rahasia umum. Namun, bagaimana jika kuota penerimaan mahasiswa S1 di PTN semakin dibatasi? Kondisi ini tentu menjadi tantangan berat, terutama bagi calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang sangat berharap pada biaya pendidikan yang terjangkau di PTN.
Situasi ini memicu diskusi luas tentang masa depan pendidikan tinggi di Indonesia. Lantas, adakah solusi konkret yang bisa ditawarkan untuk memastikan akses pendidikan tetap terbuka lebar bagi semua lapisan masyarakat, khususnya mereka yang paling membutuhkan?
Terkuak! Solusi dari Universitas Paramadina
Wakil Rektor Universitas Paramadina, Fatchiah E. Kertamuda, memberikan pandangannya yang menarik terkait isu pembatasan kuota PTN. Menurutnya, ada strategi yang perlu didorong agar sistem pendidikan tinggi tetap adaptif dan inklusif.
“PTN juga perlu didorong untuk fokus ke riset hingga daya saing,” ujar Fatchiah. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan mengandung implikasi mendalam bagi arah pengembangan PTN dan ekosistem pendidikan tinggi secara keseluruhan.
Mengapa PTN Perlu Fokus pada Riset dan Daya Saing?
Dorongan agar PTN lebih fokus pada riset dan daya saing memiliki beberapa alasan fundamental. Pertama, ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan reputasi universitas di kancah nasional maupun internasional.
PTN yang unggul dalam riset akan menarik talenta terbaik, baik dosen maupun mahasiswa pascasarjana. Lingkungan riset yang kuat juga akan mendorong inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan bangsa dan industri.
