Numerasi bukan sekadar matematika murni yang penuh rumus kompleks, melainkan kemampuan bernalar menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Inilah yang menjadi esensi pembelajaran matematika di jenjang SD dan SMP.
Ketika seorang anak mampu menggunakan logika matematika untuk menghitung kembalian belanja, memahami jadwal, atau mengukur bahan masakan, itu adalah indikator numerasi yang lebih bermakna daripada sekadar nilai ujian matematika yang tinggi namun tanpa pemahaman konteks.
Tahap Perkembangan Kognitif Anak yang Berbeda
Para ahli psikologi pendidikan menegaskan bahwa anak usia SD-SMP berada pada tahap perkembangan kognitif yang berbeda dari siswa SMA. Anak-anak di jenjang dasar umumnya berpikir secara konkret operasional.
Artinya, mereka belajar paling baik melalui pengalaman nyata, manipulasi objek, dan konteks yang bisa mereka sentuh atau lihat. Matematika yang diajarkan harus relevan dengan dunia mereka, bukan abstrak dan teoritis.
Berbeda dengan siswa SMA/SMK yang sudah memasuki tahap formal operasional, mereka sudah mampu berpikir abstrak dan hipotetis. Oleh karena itu, pendekatan pengajaran dan ekspektasi hasil ujian matematika di setiap jenjang perlu disesuaikan dengan kapasitas kognitif siswa.
Tantangan Nyata dalam Pembelajaran Matematika Dasar di Indonesia
Meskipun ada alasan kuat untuk tidak terlalu panik dengan nilai TKA Matematika, bukan berarti tidak ada tantangan serius dalam pengajaran mata pelajaran ini. Tantangan tersebut perlu diatasi agar fondasi numerasi anak-anak Indonesia semakin kokoh.
Stigma Matematika yang Menakutkan dan Membosankan
Di Indonesia, matematika seringkali diasosiasikan dengan mata pelajaran yang sulit, menakutkan, dan membosankan. Stigma ini seringkali diturunkan dari generasi ke generasi, bahkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.
