Mahasiswa dan Krisis Empati: Kritik untuk Senat Fakultas Hukum UNG

MOH. RISKY YAISA (Foto: Istimewa).

Penulis: Moh. Risky Yaisa
Gorontalo OPINI – Dalam ruang hampa yang semakin semu terdapat sebuah kesempitan perihal gerakan, entah karna belum tergerak akan rasa atau perihal empati yang sudah memudar. selalu identik dengan dua kata maha dan siswa diamana salah satu katanya terdengar akan rasa keagungan maha sebab selalunya di katakan hanya ada dua kata dan maha kuasa.

Kekuasaan merupakan wadah dan dua mata pisau yang dapat digunakan entah dalam hal kebaikan ataupun sebuah keburukan, tapi tulisan ini tidak bermaksud untuk menyerang salah satu pihak yang bermaksud untuk merugikan, tulisan ini ditujukan untuk membangun rasa yang entah berada pada ruangan mana.

Kita tidak bisa lupa bagaimana kemudian s
Universitas Negri Gorontalo sangat kritis terhadap berbagai hal, misalkan dalam bidang akademik, pencapaian presentasi dan pengembangan senat yang lebih maju hal itu merupakan sebuah pencapaian yang harus di meriahkan dengan beragam tepuk tangan.

Sayangnya belum nampak rasa kepedulian yang akhir-akhir ini bermunculan di media sosial, melalui ranah tongkrongan, kelas bahkan pembahasan bapak-bapak di warung kopi sebelah, tentang musibah yang melanda sodara kita di Aceh dan juga Sumatra.

Ruang hampa tanpa gerakan kemudian Napak pada intenal sebab sampai dengan tulisan ini terbit belum ada gerakan yang mampu mencerminkan rasa persaudaraan mereka tentang bagaimana sikap seorang yang seharunya bertindak tidak hanya pada ranah akademis tapi juga pada isu dan persoalan , saya tidak ingin mengatakan bahwasanya mereka semua mati perihal rasa kemanusiaan, namun hal itu kemudian dikuatkan bahkan terbilang di benarkan dengan belum adanya bukti gerakan nyata dalam hal persaudaraan entah dalam penggalan dana untuk membantu saudara kami yang di sana atau bahkan sbutir panflet untuk rasa berduka atas musibah yang terjadi dia sana.

Dalam hening pribadi selalu bertanya bagaimana kemudian ketika kita yang beradah pada posisi tersebut, sekecil bungkus mo instan pastilah sudah merupakan bantuan besar apalagi ada orang yang turut mendoakan bahkan bersedih dengan keadaan mereka.

Teringat saya pada sebuah kisah ketika nabi Ibrahim di bakar dan ada seekor burung yang menyirami air kepada kobaran api yang membakar nabi Ibrahim hal itu kemudian jadi bahan tawa terhadap hewan-hewan yang lain namun ucapan kecil yang ikonik keluar dari mulut burung tersebut “paling tidak sikap saya telah menjelaskan posisi saya”.

Akhir kata tulisan ini sebagai sebuah ajakan sekaligus kritikan akan gerakan yang mulai tidak nampak dalam perihal kemanusiaan.

Tidak perlu dikaji dalam aspek keagamaan sebab telah jelas bahwasanya kesusahan orang lain merupakan tanggung jawab bersama untuk membantu, tidak bermaksud kemudian untuk mengajari senat akan sebuah bentuk gerakan namun tulisan ini bertujuan untuk menjadi pengigat semoga kita semua tidak menutup mata bahkan terbilang acuh pada musibah yang terjadi di Sumatra dan juga Aceh, akhir kata nabi Muhammad Saw pernah berkata sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. HR. Bukhari dan Muslim

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang