2026: Lebaran di Tengah Salju Turki, Mahasiswa RI Ungkap Pengalaman Tak Terlupakan!

24 Maret 2026, 18:09 WIB

Image from detik.com
Source: detik.com

Tahun 2026 akan menjadi momen Idulfitri yang sangat unik bagi ribuan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Turki, khususnya di kota metropolitan . Bukan hanya jauh dari keluarga, perayaan Lebaran kali ini akan berlangsung di tengah musim dingin yang menusuk tulang.

Sebuah pengalaman langka di mana takbir berkumandang selaras dengan potensi turunnya salju, menciptakan suasana Lebaran yang jauh berbeda dari tradisi tropis di Tanah Air. Ini menjadi catatan penting bagi mahasiswa yang merayakannya.

Fenomena Lebaran di Musim Dingin: Mengapa Bisa Terjadi?

Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana bisa Lebaran jatuh di musim dingin? Jawabannya terletak pada perbedaan kalender yang digunakan umat Islam dan kalender Gregorian yang umum dipakai secara internasional.

Kalender Hijriah dan Pergeserannya

Kalender Hijriah atau kalender Islam adalah kalender lunar yang berdasarkan pada siklus bulan mengelilingi bumi. Satu tahun Hijriah memiliki sekitar 354 atau 355 hari, yang berarti 10 hingga 11 hari lebih pendek dari tahun Masehi yang berdasarkan siklus matahari.

Perbedaan durasi ini menyebabkan hari-hari besar Islam, termasuk Idulfitri, bergeser maju sekitar 10 hingga 11 hari setiap tahun dalam kalender Masehi. Inilah mengapa Lebaran bisa jatuh di berbagai musim.

Secara bertahap, perayaan Idulfitri akan bergeser melewati semua musim dalam siklus kurang lebih 33 tahun. Setelah beberapa tahun di musim semi dan panas, ia akan kembali ke musim gugur, dan akhirnya, seperti tahun 2026, tiba di musim dingin.

Suasana Istanbul di Bulan Lebaran (yang Dingin!)

, kota yang memukau dengan perpaduan budaya Eropa dan Asia, memiliki karakter musim dingin yang khas. Udara dingin, potensi hujan salju, dan suhu di bawah nol derajat Celsius bukanlah hal yang aneh.

Dinginnya Musim Salju Turki

Musim dingin di biasanya berlangsung dari Desember hingga Februari atau bahkan awal Maret. Pada periode ini, suhu rata-rata bisa berkisar antara 3°C hingga 9°C, dengan beberapa hari yang jauh lebih dingin dan disertai salju.

Bayangkan suasana pagi Idulfitri, bukannya disambut mentari hangat dan keramaian tetangga yang berbusana cerah, melainkan embusan angin dingin dan mungkin saja lanskap kota yang diselimuti putihnya salju.

“Rasanya pasti aneh shalat Ied pakai jaket tebal dan sarung tangan,” ujar seorang mahasiswa asal Bandung, Ani. “Tapi ini akan jadi cerita yang tak terlupakan seumur hidup.”

“Toko-Toko Tetap Buka”: Sebuah Perbedaan Mencolok

Salah satu fakta menarik yang menonjol dari Lebaran di Turki adalah aktivitas ekonomi yang relatif tetap berjalan. Berbeda jauh dengan Indonesia, di mana hampir semua toko, kantor, dan bahkan jalanan utama bisa sepi total.

Budaya Liburan dan Ekonomi Lokal

Di Turki, perayaan Idulfitri, yang mereka sebut Ramazan Bayramı (Festival Ramadhan) atau Şeker Bayramı (Festival Gula), adalah hari libur nasional. Namun, tidak semua sektor berhenti total.

Terutama di kota besar seperti Istanbul yang mengandalkan sektor pariwisata, banyak toko oleh-oleh, restoran, museum, dan transportasi publik tetap beroperasi normal atau dengan jam operasional yang sedikit disesuaikan. Ini demi melayani wisatawan dan juga kebutuhan warga lokal.

Pusat perbelanjaan modern mungkin buka lebih lambat, tetapi toko-toko kecil di lingkungan padat penduduk atau di area turis cenderung tetap buka. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk tetap mencari kebutuhan atau bahkan sekadar berjalan-jalan menikmati kota.

Tradisi Lebaran Ala Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua

Meskipun jauh dari keluarga dan suasana tropis, mahasiswa Indonesia di Turki tetap berupaya menjaga semangat dan tradisi Idulfitri seketat mungkin. Komunitas mahasiswa menjadi pondasi utama.

Menjaga Semangat Idulfitri

Pada pagi hari Idulfitri, prioritas utama adalah menunaikan shalat Ied berjamaah. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ankara atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Istanbul biasanya akan menyelenggarakan shalat Ied.

Selain itu, kelompok-kelompok mahasiswa juga sering berinisiatif mengadakan shalat Ied di masjid lokal atau pusat kegiatan mahasiswa, diikuti dengan silaturahmi dan halal bihalal sederhana.

“Yang paling penting itu kumpul bareng teman-teman senasib sepenanggungan,” kata Rian, mahasiswa teknik di Istanbul. “Meskipun dingin, kebersamaan itu yang menghangatkan.”

Kuliner Khas yang Dirindukan

Tidak ada Lebaran tanpa makanan khas! Walaupun bahan-bahan mungkin sulit ditemukan atau harganya mahal, para mahasiswa biasanya akan patungan untuk mencoba membuat hidangan seperti:

  • Ketupat (meski seringkali diganti nasi biasa)
  • Opor Ayam atau Daging
  • Rendang
  • Sambal Goreng Kentang

Makanan-makanan ini menjadi obat rindu akan kampung halaman dan sekaligus cara berbagi budaya dengan teman-teman dari negara lain. Tak jarang, mereka juga mencoba adaptasi, misalnya dengan menggunakan bumbu instan dari Indonesia atau bahan lokal yang mirip.

Sentuhan Budaya Lokal

Momen Lebaran juga bisa menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengamati dan merasakan perayaan Bayram ala Turki. Warga Turki biasanya saling mengucapkan “İyi Bayramlar” (Selamat Hari Raya) atau “Bayramınız Mübarek Olsun“.

Anak-anak akan berkeliling mengunjungi sanak saudara untuk mendapatkan permen dan uang saku. Suasana ini sedikit mirip dengan tradisi angpao di Indonesia, meski dalam format yang lebih sederhana dan fokus pada manisan.

Pelajaran dari Lebaran di Perantauan

Merayakan Idulfitri di tengah musim dingin, ribuan kilometer dari rumah, adalah pengalaman yang membentuk karakter. Ini mengajarkan pentingnya kemandirian, adaptasi, dan nilai sebuah komunitas.

Meskipun mungkin ada rasa haru dan rindu yang mendalam, momen ini menjadi bukti ketahanan spiritual dan emosional para mahasiswa. Mereka tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi juga mengukir kisah hidup yang tak terlupakan.

Lebaran di Turki yang dingin dan bersalju akan menjadi babak baru dalam memori mereka, membuktikan bahwa semangat Idulfitri bisa menghangatkan hati di mana pun mereka berada.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang