Relevansi Hakikat Kultural Politik dengan Netralitas Politik Birokrasi

23 Oktober 2022, 11:13 WIB

Dr. Ramli Mahmud, S.Pd.,M.A
Fotot : Dr. Ramli Mahmud, S.Pd.,M.A

Dalam konteks ini, harus disadarai urgenatitas atas lokalitas ke-Indoensia-an bahwa praktek penyeenggaraan pemerintahan dengan berasumsikan pada praktek rasional Weberian merupakan bagian kekeliruan atas penjelmaan praktek birokrasi bagi negara berkembang sepertti Indonesia. Banyak pakar yang mengkritisi Weber, namun dalam kajian otentiknya tidak dapat dipisahkan dari argumentasi yang dibangun oleh Weberian. Begitupun sebalinya, banyak pemikir yang mengkritisi Riigs, akan tetapi dalam argumentasinya tidak terlepas dari model salah birokrasi sala Riigs dalan setiap temuan,. Praktek spertinya mudah dibaca dalam penyelenggaraaan birokrasi khususnya ngera berkembang.

Kekehwatrian Betham dan Miftah atas praktek birokrasi di Indoesnia terbukti dalam tataran kontekstual. Dengan mengedepankan apsek teknis, kita kemudian lupa akan subtansi dari independensi dan perilaku birokrasi ketika diperhadapkan dengan Pemilu. Buktinya, netralitas birokrasi sangat dipengaruhi oleh persoalan independensi dan perilaku birokrasi dalam Pemilu. Temuan tidak berbeda dengan temuan yang lainnya, Firnas, (2016); Martini (2015); Mudiharta (2018); Wahyudi (2018), Pananrang, Nippi (2021) menyimpulkan bahwa perilaku ketidaknetralan birokrasi di Indonesia sudah terjadi sejak pra kemerdekaan hingga dekade sekarang ini. hingga temuan Edwart Aspinal (2019) pada tahun 2019. Apa yang diasumsiukan oleh beberapa temuan tersebut tanpa mengilhami hakikat kultural masyarakat atau birokrasi lokal yang dapat dijadikan sebagai pengangan untuk menselaraskan independensasi birokrasi dalam setiap perhelatan di daerah.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang