Dalam banyak literatur, mahasiswa disebut sebagai “kaum intelektual.” Istilah ini berasal dari bahasa Yunani intelligere, yang berarti memahami. Maka, mahasiswa sejatinya harus memiliki kemampuan membaca situasi, menganalisis kondisi sosial, serta merumuskan solusi yang konkret bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Kemampuan berpikir kritis dan reflektif inilah yang membedakan mahasiswa dari kelompok masyarakat lainnya.
Mari kita sejenak merenungi perjuangan para pendahulu kita, mereka yang telah mengorbankan waktu dan pikirannya demi kemajuan bangsa. Menjadi mahasiswa bukan sekadar memasuki dunia akademik, tetapi juga dunia pemikiran—sebuah ruang yang menuntut kita untuk mengkaji berbagai hal, termasuk aspek sosial, politik, bahkan filsafat ketuhanan, bukan untuk berdebat tanpa arah, melainkan untuk melatih daya nalar dan memperkaya sudut pandang.







