Penulis: Mardia Angraini Daud (Mahasiswa Magister Ilmu Kelautan Universitas Negeri Gorontalo)
OPINI – Perairan Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, menunjukkan keberadaan dan keragaman teripang yang memiliki signifikansi ekologis dan nilai ekonomi lokal; pemanfaatan teripang oleh komunitas pesisir setempat berpotensi menjadi sumber pendapatan bernilai tambah jika dikelola secara berkelanjutan. Peran ekologi dan dasar ilmiah pengelolaan Teripang berperan penting dalam fungsi ekosistem pesisir termasuk daur nutrien, pemeliharaan kualitas substrat, dan koneksi dengan komunitas lamun/karang—sehingga tekanan penangkapan yang berlebihan berisiko mengganggu keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, keputusan pengelolaan harus didasarkan pada data kuantitatif.
Peluang ekonomi dan nilai tambah lokal Teripang telah menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar domestik dan internasional nilai jualnya yang relatif tinggi membuka peluang bagi nelayan dan pelaku usaha mikro di Tilamuta untuk memperoleh pendapatan meningkat melalui pengolahan (pemeriksaan, pembersihan, pengeringan) dan rantai pemasaran yang lebih terstruktur. Di beberapa desa pesisir Gorontalo, termasuk Tilamuta, terdapat aktivitas penangkapan dan usaha pengolahan teripang yang menunjukkan potensi pengembangan usaha mikro-kecil berbasis teripang. Penguatan kapasitas pengolahan dan akses pasar ekspor dapat meningkatkan manfaat ekonomi bagi komunitas Bajo.

Tantangan utama
- Risiko overeksploitasi – permintaan pasar dan harga tinggi mendorong penangkapan berlebih jika tidak diimbangi kuota, musim tutup, atau zona larangan tangkap.
- Keterbatasan data dan kapasitas monitoring — manajemen adaptif terhambat oleh minimnya data kuantitatif jangka panjang tentang status populasi teripang di tingkat desa.
- Infrastruktur dan rantai nilai — keterbatasan fasilitas pengolahan, standar kualitas (higiene), dan akses transportasi/marketing mengurangi keuntungan dan membuat produk lokal rentan terhadap perantara.
- Kerusakan habitat — degradasi padang lamun, pencemaran, dan praktik penangkapan destruktif mengancam habitat yang menjadi sumber teripang.
Rekomendasi yang dapat ditawarkan :
- Aturan pengelolaan lokal (kolaboratif): susun zona pemanenan, kuota musiman, dan larangan pengambilan ukuran reproduktif melalui kesepakatan desa—menggabungkan kearifan lokal Suku Bajo dan sains.
- Penguatan kapasitas pengolahan & akses pasar: pelatihan higienis pengolahan (blanching, pengeringan), sertifikasi mutu, dan pembentukan kelompok usaha/kooperatif untuk memperpendek rantai pasok.
- Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi teripang melalui pendidikan dan pelatihan
- Peningkatan nilai ekonomi teripang melalui pengolahan dan pemasaran yang lebih baik
- Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi lingkungan untuk konservasi teripang







