Misteri Kematian Affan: Komnas HAM Ungkap Rekaman CCTV Mengejutkan

4 September 2025, 19:10 WIB

Tragedi Ojek Online: Komnas HAM Buru Bukti CCTV Kasus Kematian Affan Kurniawan

Kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun, dalam demonstrasi di Jakarta pada 28 Agustus 2025, menyisakan duka mendalam dan tuntutan keadilan. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) bergerak cepat mengumpulkan bukti untuk mengungkap kebenaran di balik insiden yang diduga melibatkan kendaraan taktis polisi.

Langkah investigasi Komnas HAM dimulai dengan pengumpulan rekaman CCTV dari berbagai instansi di sekitar lokasi kejadian di Pejompongan, Jakarta Pusat. Upaya ini bertujuan untuk merekonstruksi kronologi peristiwa secara detail, baik sebelum, selama, dan setelah insiden tersebut. Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Saurlin P. Siagian, menegaskan komitmen mereka dalam mengungkap fakta.

“Kami menyurati secara resmi berbagai instansi yang ada di sepanjang jalan untuk mendapatkan rekaman CCTV, baik sebelum kejadian, saat kejadian, maupun setelah kejadian,” jelas Saurlin dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/9/2025).

Selain rekaman CCTV, Komnas HAM juga berupaya mendapatkan bukti visual lain dari masyarakat, seperti video atau foto yang mungkin merekam peristiwa tersebut. Saksi mata pun sangat dibutuhkan untuk melengkapi proses penyelidikan. Komnas HAM menekankan keterbukaan mereka dalam menerima informasi tambahan dari publik.

“Dengan sangat terbuka kami akan menerimanya,” tegas Saurlin.

Bukti digital juga menjadi fokus Komnas HAM. Mereka berencana untuk menganalisis video yang beredar di masyarakat secara forensik digital untuk memverifikasi keakuratannya. Saurlin menyinggung adanya video yang menampilkan dugaan adanya dorongan, dan hal tersebut memerlukan pemeriksaan menyeluruh.

“Potongan-potongan fakta yang beredar ini mesti kita verifikasi, termasuk video yang katanya ada dorongan. Itu perlu dipastikan secara forensik digital, apakah benar terjadi atau hasil editing,” ungkap Saurlin.

Komnas HAM juga berupaya mendapatkan data komunikasi internal kepolisian yang berada di dalam kendaraan taktis saat kejadian. Percakapan internal aparat, baik sebelum, saat, dan sesudah insiden, dianggap penting untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang sebenarnya terjadi.

“Hal itu penting untuk mendapatkan keseluruhan fakta-fakta yang dibutuhkan Komnas HAM dalam menyusun laporan pemantauan,” tambah Saurlin.

Komnas HAM menegaskan komitmennya untuk melakukan penyelidikan secara independen dan transparan. Hasil penyelidikan dan rekomendasi akan disampaikan kepada pihak terkait sesuai dengan mandat kelembagaan. Kerja sama dari berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat proses pengungkapan fakta dan menjawab kegelisahan publik.

“Kami ingin memastikan laporan yang lahir nanti benar-benar berdasarkan fakta yang terverifikasi, bukan sekadar potongan informasi,” pungkas Saurlin. Komnas HAM berharap kerjasama dari berbagai pihak bisa segera mengungkap kebenaran atas kasus ini.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang