Gorontalo – Pemilihan Badan Eksekutif Mahasiswa (Pilbem) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) 2025 kembali disorot publik kampus usai muncul dugaan tindakan intimidasi terhadap mahasiswa oleh seorang dosen yang juga menjabat sebagai pimpinan fakultas. Dugaan ini menuai kecaman keras dari kalangan mahasiswa, salah satunya datang dari Fadly Yahya, Aktivis Mahasiswa UNG.
Kepada awak media, Fadly mengatakan secara tegas mendesak Rektor UNG untuk menjatuhkan sanksi terhadap oknum dosen tersebut yang diduga menggunakan jabatan dan pengaruhnya untuk mengarahkan suara mahasiswa dalam Pilbem.
“Ini sudah mencederai semangat demokrasi kampus. Ketika ada intimidasi dari pihak struktural terhadap mahasiswa, maka proses Pilbem kehilangan legitimasi. Kami mendesak Rektor segera bertindak dan memberikan sanksi tegas,” ujar Fadly Yahya, Selasa (10/06/2025).
Tak hanya itu, Fadly juga menyampaikan tuntutan agar Pilbem UNG 2025 diulang dari awal, karena menurutnya proses yang telah berjalan penuh dengan intervensi dan tidak mencerminkan asas keadilan serta kebebasan memilih.
“Pemilihan ini harus diulang. Banyak mahasiswa merasa ditekan, bahkan diwajibkan memilih dengan bukti tangkapan layar, yang bertentangan dengan prinsip rahasia dan bebas dalam berdemokrasi. Ini tidak bisa dibiarkan,” tambahnya.
Dukungan terhadap desakan ini juga mengalir dari berbagai organisasi kemahasiswaan lintas fakultas. Mereka menyatakan bahwa proses Pilbem tahun ini sarat kepentingan dan telah dirusak oleh mobilisasi suara berbasis tekanan administratif yang mengancam independensi mahasiswa.
Fadly Yahya menekankan bahwa Pilbem seharusnya menjadi wadah pembelajaran politik yang sehat dan inklusif, bukan arena manipulasi yang melibatkan kekuasaan struktural kampus.
“Mahasiswa tidak boleh dibungkam. Demokrasi kampus harus dijaga. Rektor tidak bisa tinggal diam terhadap dugaan pelanggaran yang mencoreng nama baik institusi,” pungkas Fadly.







