Scroll untuk baca artikel
Opini Publik

Dinamika Politik Menjelang Pemilihan Presiden Tahun 2024

×

Dinamika Politik Menjelang Pemilihan Presiden Tahun 2024

Sebarkan artikel ini
Siti Gefliandri H. GIU
Siti Gefliandri H. GIU : Mahasiswa Ilmu Hukum Kemasyarakatan (IHK), Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Jelang pemilu 2024 dinamika para elit partai politik sudah mulai gencar untuk mencari dukungan demi kepentingan kekuasaan. Pemilihan umum yang dilaksanakan secara serentak tanggal 14 Februari 2024 perebutan kursi dari tingkat kabupaten/kota sampai dengan tingkat nasioanal. Atas dinamika yang terjadi akhir-akhir ini sampai pada kalangan masyarakat bawah, gaya bahasa yang dibawakan oleh elit partai politik menunjukan wajah permainan menjelang pemilu serentak tahun 2024.

Pada konteks ini dapat kita gambarkan bahwa pemilu tahun ini akan berbeda dengan pemilu pada sebelumnya sebab dinamika yang selalu dimainkan oleh para elit secara terangan-terang untuk memperebutkan kursi kepresidenan. Sejak partai PDI-Perjuangan telah mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden menjadikan ketatnya persaingan, sebab awalnya yang di gadang-gadang masyarakat umumnya yang akan jadi calon presiden Puan Maharani karena sebagai putri ketua umum PDI-Perjuangan ibu Megawati Soekarno Putri. Atas dinamika politik tersebut menunjukan ketatnya persaingan menjelang pemilihan presiden tahun 2024, karena dari 3 koalisi sudah 2 koalisi yang telah mendeklarasikan capresnya yakni koalisi perubahan yang menjadi capresnya Anis Baswedan koalisi partai Nasdem, Demokrat, dan PKS. Sementara koalisi kebangkitan Indonesia raya gabungan dari partai Gerindra dan PKB telah bersepakat Prabowo menjadi capresnya, dan koalisi yang belum mendeklarasikan koalisi Indonesia bersatu atau gabungan dari partai Golkar, PAN dan PPP.

ADVERTISMENT
SCROLL KEBAWAH UNTUK LIHAT KONTEN

 Disamping dari ketiga koalisi tersebut bahwa partai yang bisa berdiri sendiri untuk mengusung calon presiden yakni, partai Demokrasi Indonesi Perjuangan (PDI-P) sebab partai tersebut bisa mengusung capresnya tanpa melakukan koalisi dikarenakan sudah memenuhi ambang batas yang telah di tentukan 20 persen. Hal dapat menjadikan persaingan menjadi sangat ketat sebab dari ketiga bacapres yang dekat dengan presiden Jokowi adalah Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto sementara yang menjadi oposisi koalisi yang mengusung Anis Baswedan. Atas dinamika yang terjadi tentunya para koalisi memiliki strategi kumunikasi yang dibangun para koalisi yang menjadikan dinamika politik menjelang pemilu 2024 sangat berdinamika.

Terlepas dari dinamika politik yang dimainkan oleh elit politik, tentunya, sebagai masyarakat berhak dan wajib untuk dapat menjaga kedaulatan serta ikut serta dalam mengawasi dinamika politik yang dibangun oleh elit politik, tentunya atas dinamika yang terbangun sampai pada tingkatan masyarakat bawah sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Atas kepentingan elit partai politik dalam meraih kekuasaan melalui dukungan masyarakat agar dapat menang dalam pesta demokrasi tahun 2024. Untuk menjadikan pemilu 2024 menjadi pemilu yang berintegritas serta bersih melalui tingkat kesadaran politik masyarakat. Artinya, masyarakat bisa membuat keputusan yang baik dan bijak terhadap pilihannya sendiri dapat membawa kepentingan serta kebutuhan masyarakat dari sabang sampai meraoke.

Penulis :
Mahasiswa Ilmu Hukum Kemasyarakatan (IHK)
Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Universitas Negeri Gorontalo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *