Saham BCA Jatuh ke Level Terendah dalam Tiga Tahun, Investor Asing Kabur

9 Oktober 2025, 10:59 WIB

Pekerja beraktivitas di dekat logo Bank BCA di Jakarta.

JAKARTA, PEADATA.COM PT Bank Central Asia Tbk. () kembali mengalami tekanan, hingga menyentuh level terendah dalam tiga tahun terakhir. Menurut data dari Stockbit, pada pukul 10.00 WIB, Kamis (9/10/2025), terdepresiasi sebesar 1,02% atau turun 75 poin, berada di harga Rp7.300 per lembar. Ini menjadi yang pertama kalinya sejak 2022, swasta terbesar di Indonesia ini jatuh ke kisaran Rp7.000-an.

Penurunan ini menambah rentetan buruk bagi . Dalam sepekan terakhir, harga sahamnya telah terkikis 2,67% atau setara 300 poin. Jika diamati selama sebulan, penurunannya mencapai 4,87% atau 375 poin. Lebih parah lagi, dalam tiga bulan terakhir, saham anjlok hingga 13,82% atau 1.175 poin.

Tren Penurunan Berlanjut

Secara tahunan, performa saham BBCA menunjukkan tren yang melemah. Sejak awal tahun, dengan kapitalisasi pasar terbesar di ini telah terperosok sebanyak 24,55% (year to date/YtD) atau 2.375 poin. Dalam periode setahun terakhir, penurunannya bahkan mencapai 29,57% atau 3.075 poin.

Aliran dana asing pun turut berkontribusi terhadap tekanan ini. Data menunjukkan bahwa sepanjang tahun ini, investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp31,19 triliun di saham . Meskipun tekanan masih terasa kuat, valuasi saham kini mulai menunjukkan posisi yang relatif menarik jika dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir.

Valuasi Saham BCA

Berdasarkan informasi dari Stockbit, rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/P/E ratio) BCA saat ini berada di kisaran 15,85 kali, sedangkan proyeksi ke depan (forward P/E ratio) sebesar 14,81 kali. Ini menunjukkan bahwa harga saham BCA saat ini setara dengan sekitar 15 kali laba bersih tahunan, lebih rendah dari rerata historisnya, yang mengindikasikan valuasi mulai berada di zona wajar.

Sementara itu, rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) BCA kini berada di level 3,45 kali, menunjukkan bahwa harga saham BCA masih diperdagangkan tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan nilai bukunya. Dari sisi arus kas, rasio harga terhadap arus kas (price to cashflow) berada di level 18,85 kali, sedangkan rasio harga terhadap arus kas bebas (price to free cashflow) tercatat 20,33 kali.

Kinerja Keuangan BCA

Dalam hal kinerja, BCA dan entitas anak berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi senilai Rp29 triliun pada semester I/2025, tumbuh 8% secara tahunan (year on year/YoY). Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih BCA tercatat sebesar Rp26,9 triliun.

“Kredit tumbuh 12,9% YoY menjadi Rp959 triliun per Juni 2025, didukung oleh pertumbuhan penyaluran di berbagai segmen dan terjaganya kondisi likuiditas perusahaan,” ujar Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, dalam konferensi pers mengenai kinerja keuangan pada Rabu (30/7/2025).

Secara rinci, kredit korporasi BCA tumbuh 16,1% YoY mencapai Rp451,8 triliun, kredit komersial naik 12,6% YoY menjadi Rp143,6 triliun, dan kredit UKM meningkat 11,1% YoY hingga Rp127 triliun. Pertumbuhan KPR juga terjaga sebesar 8,4% menjadi Rp137,6 triliun, dan kredit kendaraan bermotor (KKB) mencapai Rp65,4 triliun, total pertumbuhan kredit konsumer mencapai 7,6% YoY hingga Rp226,4 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan penyaluran kredit, rasio loan at risk (LAR) BCA terjaga pada level 5,7% sepanjang semester I/2025, mengalami perbaikan dari 6,4% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) terkelola pada level 2,2%. Pencadangan NPL dan LAR juga mencukupi, masing-masing 167,2% dan 68,7%.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.penadata.com/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang