**September Hitam di Pasar Kripto? Waspadai Ancaman Red September!**
Kecemasan menyelimuti pasar kripto menjelang September. Fenomena tahunan yang dikenal sebagai “Red September” kembali menghantui para trader. Sejak 2013, Bitcoin rata-rata mengalami penurunan 3,77 persen setiap bulan September, dan indikasi serupa terlihat tahun ini.
Data Decrypt pada Sabtu (30/8) menunjukkan Bitcoin diperdagangkan sideways di kisaran USD 109.000 (sekitar Rp 1,77 miliar). Kondisi ini menambah kekhawatiran menjelang bulan yang selama satu dekade terakhir dikenal sebagai masa sulit bagi aset digital. Bukan sekadar mitos, indeks saham S&P 500 AS juga mencatat kinerja terburuknya di bulan September sejak 1928, pola yang juga tampak di dunia kripto. Dalam 11 tahun terakhir, Bitcoin delapan kali jatuh di bulan September, hanya tiga kali mengalami kenaikan.
Yuri Berg, konsultan dari perusahaan likuiditas kripto FinchTrade (Swiss), menjelaskan, “Polanya sudah terbentuk. Setiap akhir Agustus, percakapan negatif di media sosial meningkat, diikuti lonjakan pengiriman Bitcoin ke bursa dalam 48–72 jam.” Berg menyebut Red September bukan lagi anomali musiman, melainkan eksperimen psikologi pasar. Ia menambahkan, “Seluruh pasar seperti mengondisikan dirinya untuk menjual hanya karena faktor sejarah, bukan karena fundamental saat ini.”
Tekanan pada September memang kompleks. Banyak dana kelolaan di Wall Street menutup tahun fiskal mereka di bulan ini, sehingga melakukan penyesuaian portofolio dan *tax loss harvesting*. Aksi jual besar-besaran ini kemudian menjalar ke pasar kripto. Selain itu, rapat penting Federal Reserve pada 17-18 September mendatang menimbulkan ketidakpastian kebijakan suku bunga, membuat investor cenderung menunggu sinyal arah kebijakan moneter.
Daniel Keller, CEO InFlux Technologies, memperingatkan kondisi global yang tak kalah serius. “Kita menghadapi dua konflik bersenjata besar di Eropa dan Timur Tengah, ditambah perang dagang Amerika Serikat dengan banyak sekutunya,” katanya. Semua faktor ini berpotensi menciptakan “badai sempurna” yang mendorong penurunan drastis Bitcoin. “Saat ini pasar tidak melihat Bitcoin sebagai lindung nilai, tapi lebih sebagai aset berisiko tinggi,” tegas Keller.
Secara teknikal, Bitcoin telah jatuh di bawah support penting USD 110.000 (Rp 1,78 miliar) sejak Mei. Trader kini memantau level USD 105.000 (Rp 1,71 miliar) sebagai batas kritis. Penurunan di bawah level tersebut berpotensi mendorong Bitcoin ke bawah USD 100.000 (Rp 1,63 miliar). Volume transaksi Bitcoin saat ini juga 30 persen lebih rendah dibanding rata-rata Juli, menunjukkan minimnya likuiditas.
Di platform prediksi Myriad, 75 persen trader memperkirakan harga Bitcoin akan turun ke USD 105.000. Namun, CEO platform riset DYOR, Ben Kurland, menilai Red September sebagai mitos yang terus direproduksi. “Dulu Bitcoin jatuh karena volume pasar yang kecil dan investor ritel panik. Sekarang kondisinya berbeda. Likuiditas lebih kuat, adopsi institusional lebih luas, dan bahkan ETF mulai masuk,” ujarnya. Kurland mengakui inflasi inti masih tinggi, namun pasar juga berharap The Fed akan memangkas suku bunga.
Menariknya, Bitcoin justru naik di bulan September dalam dua tahun terakhir, menunjukkan siklus ini mungkin mulai melemah. Jika Red September benar terjadi, trader bisa berharap pada Oktober, yang sering disebut “Uptober”, bulan dengan kinerja historis terbaik Bitcoin. Namun, Keller mengingatkan, “Amati terus indeks Fear and Greed dalam dua pekan ke depan. Itu akan jadi kompas penting untuk memutuskan: bertahan atau mulai keluar dari pasar.”







