Angel Di Maria, sang “Malaikat” dari Argentina, tiba di Manchester United pada musim panas 2014 dengan ekspektasi setinggi langit. Transfernya dari Real Madrid memecahkan rekor transfer Inggris kala itu, mencapai angka fantastis £59.7 juta, menjadikannya pembelian termahal dalam sejarah klub.
Kedatangannya disambut meriah, diproyeksikan menjadi motor serangan baru Setan Merah di bawah asuhan manajer baru, Louis van Gaal. Para penggemar berharap Di Maria bisa mengembalikan kejayaan klub pasca era Sir Alex Ferguson yang sempat terhenti.
Momen Kedatangan & Ekspektasi Selangit
Sebelumnya, Di Maria adalah bintang tak terbantahkan di Real Madrid, menjadi pahlawan di final Liga Champions 2014 dan dikenal dengan kemampuan dribel, umpan akurat, serta gol-gol krusialnya. Ia datang ke Old Trafford sebagai salah satu gelandang serang terbaik dunia.
Awalnya, sinyal positif terlihat. Di Maria mencetak gol indah dalam debutnya melawan Queens Park Rangers dan menunjukkan beberapa penampilan memukau. Ia bahkan dinobatkan sebagai pemain terbaik klub di bulan September 2014, seolah mimpi indah akan terwujud.
Titik Balik: Ketika Hubungan Mulai Retak dengan Sang Meneer
Namun, euforia itu tak berlangsung lama. Perlahan tapi pasti, performa Di Maria mulai meredup, dan ia sering terlihat frustrasi di lapangan. Benang merah dari kemerosotan ini, menurut pengakuannya, adalah hubungannya yang memburuk dengan sang pelatih, Louis van Gaal.
Van Gaal sendiri dikenal sebagai manajer dengan filosofi yang sangat spesifik dan kerap disebut “diktator” oleh beberapa pemainnya. Pendekatan taktisnya yang kaku dan tuntutan yang tinggi seringkali menimbulkan gesekan dengan pemain yang berkarakter bebas.
Pergeseran Posisi yang Mematikan Karier
Salah satu poin utama perselisihan adalah pergeseran posisi Di Maria. Ia yang terbiasa bermain sebagai winger murni atau gelandang serang kreatif di sayap, secara mengejutkan sering dipaksa bermain lebih ke tengah sebagai gelandang box-to-box atau bahkan posisi yang tidak familiar baginya.
Perubahan peran ini membatasi kebebasan ekspresi Di Maria dan meredupkan insting menyerangnya yang tajam. Ia merasa tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya dan menjadi bayangan dari dirinya yang dulu bersinar di Spanyol, memicu rasa tidak nyaman yang mendalam.