Di awal musim, AS Roma menjelma menjadi salah satu tim dengan pertahanan paling kokoh di Serie A. Di bawah asuhan Jose Mourinho, “Serigala Roma” membangun benteng yang sulit ditembus, menjadi mimpi buruk bagi setiap lini serang lawan.
Namun, angin berubah drastis. Sebuah ironi pahit menyelimuti Olimpico ketika pertahanan yang dulu tangguh itu kini justru terlihat begitu rapuh, puncaknya saat dibantai Inter Milan dengan skor telak 5-1.
Era Mourinho: Benteng Kokoh di Awal Musim
Jose Mourinho, dikenal dengan filosofi pragmatis dan pertahanan yang terorganisir, berhasil menanamkan disiplin tinggi pada skuad Giallorossi. Hasilnya, Roma sangat jarang kebobolan di laga-laga awal musim.
Para pengamat sepak bola memuji struktur pertahanan mereka, yang seringkali bermain dengan blok rendah namun sangat rapat. Ini membuat lawan kesulitan mencari celah untuk menembus kotak penalti Roma.
Statistik berbicara jelas: Roma sempat menjadi tim dengan rekor kebobolan terendah di liga pada beberapa pekan pertama. Sebuah pencapaian yang membanggakan dan menjadi fondasi bagi performa tim secara keseluruhan.
Taktik “Parkir Bus” yang Efektif
Mourinho kerap menerapkan strategi yang oleh banyak orang disebut “parkir bus,” namun dilakukan dengan sangat efektif. Setiap pemain memiliki tugas defensif yang jelas, dari penyerang hingga kiper.
Lini tengah bekerja keras melindungi empat bek sejajar, menutup ruang dan memutus alur bola lawan. Chris Smalling, Gianluca Mancini, dan Ndicka menjadi pilar yang kokoh di jantung pertahanan.
Transformasi Pahit: Ketika Serigala Kehilangan Taring Pertahanan
Perubahan drastis ini menimbulkan banyak pertanyaan. Dari tim yang solid, Roma tiba-tiba seperti kehilangan identitas defensifnya, membiarkan gawang mereka dieksploitasi dengan mudah.
Pertandingan melawan Inter Milan menjadi alarm keras. Kebobolan lima gol dalam satu pertandingan adalah tamparan keras bagi tim yang sebelumnya dikenal sangat irit gol yang masuk ke jaring mereka.
