Wacana penerapan kembali belajar dari rumah (BDR) yang rencananya dimulai April 2026 kembali mencuat ke permukaan. Namun, gagasan ini langsung menuai respons keras dan penolakan tegas dari sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Kekhawatiran utama mereka berpusat pada potensi dampak negatif yang signifikan terhadap kualitas pendidikan. Lebih jauh lagi, mereka menyoroti perkembangan psikososial dan mental anak-anak Indonesia yang rentan terganggu.
Ide BDR, meskipun sempat menjadi solusi darurat di masa pandemi, kini dianggap perlu dikaji ulang secara mendalam. Banyak pihak melihatnya bukan sebagai opsi utama untuk sistem pendidikan jangka panjang.
Pengalaman pahit selama pandemi menjadi pelajaran berharga yang tidak boleh diabaikan. Ini memunculkan pertanyaan besar tentang kesiapan infrastruktur dan kapabilitas bangsa kita.
DPR Bersuara Tegas: Efektivitas dan Masa Depan Anak Jadi Prioritas Utama
Anggota DPR secara lantang menyuarakan penolakan mereka, menggarisbawahi beberapa poin krusial. Mereka menilai, model belajar daring murni berpotensi merugikan siswa secara jangka panjang.
Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu semata, tetapi juga pembentukan karakter dan moral. Interaksi sosial langsung adalah fondasi penting yang tidak bisa digantikan oleh layar.
Kurang Efektif untuk Pembelajaran Inti
Kekhawatiran terbesar adalah penurunan efektivitas pembelajaran yang masif. Banyak siswa kesulitan fokus dan memahami materi, terutama di jenjang pendidikan dasar dan menengah.
“Belajar tatap muka adalah metode terbaik untuk membangun interaksi dua arah yang bermakna,” ujar salah seorang anggota DPR. “Fokus siswa lebih terarah dan pemahaman materi jauh lebih mendalam jika ada bimbingan langsung.”
Dampak Negatif pada Perkembangan Psikososial Anak
Aspek sosial-emosional anak adalah krusial dan rentan terganggu oleh BDR. Anak-anak membutuhkan interaksi teman sebaya, bermain, dan bimbingan langsung dari guru untuk tumbuh kembang optimal.
Isolasi sosial yang berkepanjangan dapat memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres, dan bahkan depresi pada anak. Perkembangan keterampilan komunikasi dan empati juga akan terhambat.
Belajar dari Pengalaman Pandemi: Trauma dan Kesenjangan yang Mendalam
Pengalaman BDR selama pandemi COVID-19 menjadi tolok ukur penting dalam evaluasi kali ini. Banyak pihak merasakan langsung berbagai tantangan dan efek samping yang kurang ideal dari sistem ini.
Pandemi memang memaksa kita untuk beradaptasi dengan cepat, namun hasilnya tidak selalu optimal untuk semua. Ini adalah kesempatan emas untuk belajar dan tidak mengulangi kesalahan serupa.
