Fenomena iklim global yang dikenal sebagai El Nino, terutama varian super kuat yang dijuluki ‘Godzilla El Nino‘, kembali menjadi sorotan tajam para pakar dan pemerhati lingkungan.
Peringatan keras telah digaungkan, mengingat dampak mengerikannya yang bisa berimbas pada cuaca ekstrem, kualitas tanah, hingga ketersediaan air bersih di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Kita semua diajak untuk meningkatkan kewaspadaan, karena ‘Godzilla El Nino‘ bukan sekadar anomali cuaca biasa. Ini adalah sebuah ancaman yang berpotensi memicu serangkaian bencana hidrometeorologi.
Apa Itu El Nino dan Mengapa Disebut ‘Godzilla’?
El Nino adalah bagian dari pola iklim alami yang lebih besar, dikenal sebagai El Nino-Southern Oscillation (ENSO), yang melibatkan fluktuasi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik Ekuatorial.
Secara sederhana, El Nino merujuk pada pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur, yang kemudian memengaruhi pola angin, curah hujan, dan suhu global secara signifikan.
Mekanisme di Balik El Nino
Ketika El Nino terjadi, angin pasat dari timur ke barat melemah, memungkinkan massa air hangat yang biasanya terkonsentrasi di Pasifik barat bergerak ke timur.
Pergeseran ini mengubah pola konveksi atmosfer, di mana awan-awan pembawa hujan yang seharusnya berada di wilayah Indonesia dan Australia bergeser ke Pasifik tengah dan timur.
Mengapa Disebut ‘Godzilla’?
Istilah ‘Godzilla El Nino‘ pertama kali mencuat pada periode 2015-2016, merujuk pada intensitasnya yang luar biasa kuat, salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah.
Kekuatan dan potensi dampak destruktifnya yang masif, bagaikan monster dalam film Jepang ‘Godzilla’, membuat para ilmuwan mengadopsi julukan tersebut untuk menggambarkan tingkat keparahannya.
Dampak Mengerikan ‘Godzilla El Nino’ yang Harus Diwaspadai
Dampak El Nino, terutama yang berintensitas tinggi, sangat kompleks dan menyebar luas, memengaruhi berbagai sektor kehidupan manusia dan lingkungan.
Dari sektor pertanian hingga kesehatan masyarakat, tak ada yang luput dari ancaman yang dibawanya.
Kekeringan Ekstrem dan Krisis Air
Salah satu dampak paling langsung adalah penurunan drastis curah hujan di wilayah tropis seperti Indonesia, Australia, dan sebagian Asia Tenggara.
